Pencarian

Pemprov Maluku Utara Padukan Sekolah Cuaca Nelayan dan Gempa Bumi di Halbar, Angkat Kearifan Lokal Sahu

Rabu, 29 Juli 2026 • 09:57:01 WIB
Pemprov Maluku Utara Padukan Sekolah Cuaca Nelayan dan Gempa Bumi di Halbar, Angkat Kearifan Lokal Sahu
Pemprov Maluku Utara memadukan Sekolah Cuaca Nelayan dan Sekolah Gempa Bumi dalam satu kegiatan di Halmahera Barat.

HALMAHERA BARAT — Dua program kesiapsiagaan bencana yang biasanya berjalan sendiri-sendiri kini digabung jadi satu kegiatan. Staf Ahli Gubernur Maluku Utara Bidang Hukum dan Pemerintahan, Fachrudin Tuguboya, mengatakan penggabungan SLCN dan SLG sengaja dilakukan untuk menjangkau lebih banyak warga sekaligus.

“Yang menjadi kata kunci adalah efektif dan berdampak lebih luas,” kata Fachrudin saat membuka acara di Aula Bidadari Kantor Bupati Halmahera Barat, Selasa (28/7/2026).

Laut dan Gunung: Dua Sisi Kehidupan yang Perlu Diwaspadai

Fachrudin mengingatkan bahwa Maluku Utara dikelilingi laut dan memiliki banyak gunung api aktif. Laut menjadi sumber penghidupan sekaligus jalur transportasi antar pulau. Namun, di balik itu semua, risiko bencana mengintai.

“Laut adalah tempat kita mencari rezeki, laut adalah jalan kita dalam bersilaturahmi, tetapi di laut juga ada tantangan,” ujarnya.

Hal serupa berlaku di kawasan vulkanik. Kesuburan tanah Halmahera, menurut Fachrudin, tidak lepas dari aktivitas gunung berapi. Namun, potensi ancaman tetap harus diwaspadai.

Kearifan Lokal Sahu: Gunung Jailolo Jadi Penanda Cuaca Laut

Dalam kesempatan itu, Fachrudin mencontohkan kearifan lokal masyarakat Sahu yang masih relevan hingga kini. Sejak kecil, ia mendapat pengetahuan dari orang tua dan leluhur bahwa kondisi Gunung Jailolo bisa menjadi penanda cuaca laut.

“Kalau Gunung Jailolo ujungnya clear, tidak ada awan, berarti tidak ada ombak. Tapi begitu tertutup awan, pasti ada ombak,” ungkapnya.

Pengetahuan tradisional ini, kata Fachrudin, tidak boleh hilang di tengah kemajuan teknologi. Justru perlu dikolaborasikan dengan informasi ilmiah modern agar sistem mitigasi bencana semakin kuat.

Nelayan dan Warga Pesisir Jadi Sasaran Utama

Melalui SLCN dan SLG, peserta diajak memahami cara membaca informasi cuaca, mengenali potensi bahaya di laut, serta langkah-langkah evakuasi saat gempa bumi dan tsunami. Fachrudin menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemerintah.

“Ini tanggung jawab bersama seluruh masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap perpaduan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal mampu membangun masyarakat Maluku Utara yang lebih tangguh dan siap menghadapi potensi bencana ke depan.

Follow www.kabarternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jurnalone.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks