MALUKU UTARA — Memasuki pekan kedua Agustus 2026, konsumen di dalam negeri dihadapkan pada daftar harga BBM baru yang berbeda-beda antar merek. Berdasarkan pantauan Senin (10/8), Pertamina telah memberlakukan harga terbaru untuk lini produk non-subsidi sejak awal bulan ini, diikuti oleh kompetitor swasta yang ikut merombak tarif jual mereka.
Kenaikan harga ini menjadi perhatian pelaku industri transportasi dan manufaktur. Pasalnya, BBM nonsubsidi umumnya digunakan oleh sektor industri, armada logistik, serta kendaraan pribadi beroktan tinggi, sehingga fluktuasi harganya langsung terasa di rantai pasok barang.
Rincian Harga Pertamina dan Kompetitor Swasta
Untuk produk unggulan Pertamina, harga Pertamax Green dibanderol Rp16.600 per liter, sedangkan Pertamax Turbo berada di level Rp18.300 per liter. Pada lini diesel, Dexlite dijual Rp19.700 per liter dan Pertamina Dex dipatok lebih tinggi di angka Rp21.150 per liter.
Di sisi lain, Shell menetapkan harga Shell V-Power Diesel sebesar Rp21.910 per liter pada Agustus 2026. Angka ini sedikit lebih mahal dibandingkan produk diesel premium milik Pertamina, mencerminkan perbedaan spesifikasi dan segmen pasar yang disasar.
Menariknya, di tengah gelombang penyesuaian ini, harga BBM subsidi justru tidak bergeming. Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap di angka Rp6.800 per liter, sesuai dengan ketentuan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Dampak ke Kantong Konsumen dan Sektor Usaha
Bagi pengguna kendaraan pribadi, selisih harga antar merek kini semakin terlihat. Konsumen yang sebelumnya setia pada satu merek mungkin mulai membandingkan efisiensi, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Sementara itu, bagi pengusaha angkutan, kenaikan harga BBM nonsubsidi otomatis menambah komponen biaya operasional harian.
Keputusan Pertamina untuk menahan harga BBM subsidi di tengah tekanan harga minyak dunia menunjukkan adanya beban kompensasi yang ditanggung negara. Namun, untuk produk nonsubsidi, mekanisme pasar tetap berjalan—harga mengikuti fluktuasi minyak mentah dan nilai tukar rupiah.
Dengan disparitas harga yang cukup lebar antara BBM subsidi dan nonsubsidi, pemerintah tampaknya masih mengandalkan instrumen subsidi untuk melindungi konsumen kelas bawah, sementara segmen menengah ke atas dibiarkan mengikuti dinamika pasar. Keputusan ini pun menjadi sinyal bagi pelaku industri untuk menghitung ulang struktur biaya produksi mereka hingga akhir tahun.