SOFIFI — Kegembiraan menyelimuti para pelajar di pesisir Weda setelah bertahun-tahun bergantung pada mobil pick-up dan bus Damri yang tak menentu. PT IWIP bersama PT Weda Bay Nickel meresmikan layanan antar-jemput gratis yang melayani rute dari Gereja Immanuel Baru hingga SMP N 17 Halmahera Tengah, serta dari Desa Jikomoi ke SMA N 4 Halmahera Timur.
Rute dan Jadwal: Dari Pukul 06.00 hingga Pulang Sekolah
Untuk wilayah Halmahera Tengah, bus beroperasi dari pukul 06.00 WIT dengan dua jalur utama. Jalur pertama menjangkau siswa dari Desa Kobe menuju Sawai Itepo, dengan titik akhir di SMP N 17 Halmahera Tengah. Jalur kedua melayani SD Lukulamo menuju SMP N 9 dan SMK 2 Halmahera Tengah.
Sementara di Halmahera Timur, penjemputan dimulai pukul 06.00 hingga 06.30 WIT dari Desa Jikomoi, Waijoi, Saolat, dan Minamin. Bus berakhir di SMA N 4 Halmahera Timur, SMK 2 Halmahera Timur, dan SMP N 13 Wasile. Khusus hari Jumat, jam kepulangan dimajukan menjadi pukul 11.30 WIT.
Bupati Haltim: Solusi untuk Wilayah Terpencil Wasile Selatan
Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub menyampaikan apresiasi langsung saat peluncuran di Kantor Desa Kobe, Kecamatan Weda Tengah. Menurutnya, bantuan ini sangat krusial bagi Kecamatan Wasile Selatan yang warganya tersebar di desa-desa terpencil.
“Jarak antara rumah-rumah siswa ke sekolah sangat jauh. Ke depan, mudah-mudahan jalinan kerja sama dan dukungan seperti ini terus berlanjut,” ujar Ubaid dalam sambutannya.
Kepala Sekolah: Tak Ada Lagi Siswa Menunggu Tumpangan di Pinggir Jalan
Kepala SMP N 17 Halmahera Tengah, Dedy C.H. Kaijely, menyebut kehadiran bus sekolah sebagai solusi atas keterlambatan kronis yang selama ini mencapai 30 menit hingga satu jam. Sebelumnya, banyak siswa terpaksa menumpang kendaraan yang lewat atau berjalan kaki jika tak ada yang mengantar.
“Ini merupakan bentuk partisipasi nyata perusahaan dalam mendukung pendidikan,” kata Dedy. Ia menambahkan, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah desa diperlukan untuk membangun kedisiplinan siswa agar hadir tepat waktu di titik penjemputan.
Senada, Kepala SMA N 4 Halmahera Timur, Afendi A. Gani, berharap pemerintah daerah serius merawat armada yang kini telah diserahkan pengelolaannya. Ia mengingatkan, tanpa perawatan rutin, layanan yang baru berjalan ini bisa terhenti.
Cerita Inggrit: Dari Menumpang Pick-Up Kini Naik Bus Bersama Teman
Inggrit Herat, siswi kelas XII C SMA N 4 Halmahera Timur, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Setiap hari sebelumnya ia harus bergantung pada kendaraan yang melintas atau diantar orang tua dengan jarak tempuh yang melelahkan.
“Sekarang bisa berangkat bersama teman-teman dan tiba di sekolah tepat waktu,” ujar Inggrit, mewakili puluhan siswa yang selama ini mengeluhkan transportasi.
Program ini diharapkan menjadi model kerja sama antara perusahaan tambang dan pemerintah daerah dalam mengatasi kesenjangan akses pendidikan di wilayah kepulauan. Operasional bus sekolah Weda Bay Project dijadwalkan setiap hari sekolah, dengan pengelolaan bertahap diserahkan ke pemerintah daerah setempat.