TOBELO — Sebanyak 11 jenis bencana alam dan non-alam berpotensi melanda Indonesia sewaktu-waktu. Hal itu menjadi dasar bagi jajaran BPBD se-Maluku Utara untuk memperkuat koordinasi dalam Rakorda yang digelar di Marahai Park Hotel Tobelo, Halmahera Utara, selama dua hari ke depan.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Halmahera Utara, E.J. Papilaya, mewakili Bupati. Hadir pula Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Maluku Utara Fehby Alting yang mewakili Gubernur, serta Kepala BPBD dari seluruh kabupaten/kota se-Maluku Utara.
Pahlawan Kemanusiaan di Garda Terdepan
Dalam sambutan yang dibacakannya, E.J. Papilaya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir. Menurutnya, kehadiran para pegiat penanggulangan bencana adalah bukti nyata komitmen membangun masyarakat yang tangguh.
"Bapak dan Ibu sekalian adalah pahlawan kemanusiaan. Tugas yang diemban bukan hanya melindungi harta benda, tetapi juga menyelamatkan nyawa sesama. Pengabdian seperti ini adalah pekerjaan yang sangat mulia dan menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan masyarakat," jelas Papilaya dalam sambutannya.
Pengalaman Lapangan: Dari Erupsi Dukono hingga Puting Beliung
Papilaya mengungkapkan, pengalaman di lapangan menjadi pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja. Sejak dirinya dilantik sebagai Bupati Halmahera Utara, berbagai peristiwa telah dihadapi, mulai dari kebakaran, gempa bumi, erupsi Gunung Dukono, angin puting beliung, hingga banjir.
"Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kita harus selalu siap menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi kapan saja," pungkasnya.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan, pengetahuan, dan kemampuan penanganan bencana harus terus ditingkatkan oleh seluruh pemangku kepentingan di daerah.
Turut hadir dalam pembukaan Rakorda tersebut Kepala Kemenag Halut Abdurrahman M. Ali, Pasi OPS Kodim 1508/Tobelo Kapten Inf Heri Susanto, Kasie Intel Kajari Halut Adi Setiawan, Kepala BPBD Halut Hentje M.L Hetaria, serta DanPos Basarnas Halut Rudin Jasroji.