Pencarian

Lomba Bird Race Internasional Pertama di Maluku Utara Resmi Dibuka, 27-29 Juli 2026 di Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Selasa, 28 Juli 2026 • 11:11:01 WIB
Lomba Bird Race Internasional Pertama di Maluku Utara Resmi Dibuka, 27-29 Juli 2026 di Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Puluhan peserta dari mahasiswa, fotografer profesional, hingga mancanegara mengikuti lomba pengamatan dan fotografi burung di Taman Nasional Aketajawe Lolobata.

SOFIFI — Ajang International Bird Race Competition 2026 untuk pertama kalinya digelar di Maluku Utara, tepatnya di kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (Ajalo), Pulau Halmahera. Puluhan peserta dari mahasiswa, fotografer profesional, hingga mancanegara mengikuti lomba pengamatan dan fotografi burung yang dibuka pada Senin (27/7/2026) ini.

Dua Kategori Lomba: Birding dan Bird Photography

Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Budhi Chandra, menjelaskan kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Juli 2026. Ajalo International Bird Race 2026 mempertemukan pegiat konservasi, pengamat burung, dan fotografer alam dari berbagai daerah.

Lomba dibagi dalam dua kategori. Kategori birding dapat diikuti individu atau tim yang terdiri dari satu hingga tiga orang. Sementara kategori bird photography diperuntukkan bagi peserta perorangan.

Bukan Sekadar Kompetisi, Melainkan Gerakan Konservasi

“Bird race atau lomba pengamatan burung merupakan sebuah kegiatan yang menggabungkan olahraga alam, penelitian ilmiah sederhana, dan semangat konservasi,” jelas Chandra dalam sambutannya.

Kegiatan ini merupakan rangkaian menyongsong peringatan Hari Konservasi Alam Nasional pada 10 Agustus mendatang. Acara ini juga menjadi bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam menjaga kelestarian sumber daya alam dan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

Pelepasliaran Kakatua Putih dan Nuri Ternate

Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, H. Samsuddin A. Kadir, mengapresiasi penyelenggaraan ajang ini. Ia mengaku bangga karena Taman Nasional Aketajawe Lolobata menjadi lokasi pelaksanaannya.

“Ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sebuah gerakan nyata memperkenalkan dan mempromosikan potensi keanekaragaman hayati Maluku Utara,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Sekprov bersama Tenaga Ahli Kementerian Kehutanan melanjutkan agenda konservasi lingkungan dengan melepasliarkan burung kakatua putih (Cacatua alba) dan burung nuri ternate (Lorius garrulus).

Ekowisata Berbasis Konservasi Jadi Masa Depan Pariwisata Malut

Samsuddin menegaskan bahwa ekowisata berbasis konservasi adalah masa depan pariwisata Indonesia, terutama di Maluku Utara. Menurutnya, dengan mengedepankan kelestarian alam, daerah ini siap menjaga keberlangsungan ekosistem sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

“Ini tidak hanya menjadi destinasi unggulan di tingkat nasional tetapi juga di panggung internasional,” katanya.

Kegiatan ini berkembang di Indonesia bukan hanya sebagai ajang kompetisi, melainkan juga bentuk gerakan memperkuat komunitas pengamat burung di Nusantara. Tujuannya meningkatkan kepedulian masyarakat luas terhadap keanekaragaman hayati yang ada di sekitar mereka.

Follow www.kabarternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kabarpulau.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks