MALUKU UTARA — Meski ekspor meningkat, perusahaan pelat merah anggota holding MIND ID ini tetap mengutamakan pasar dalam negeri. Penjualan domestik tercatat 10,77 juta ton, atau sekitar 51 persen dari total penjualan. Dari jumlah itu, sebanyak 7,78 juta ton diserap oleh grup PLN untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik.
Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan energi nasional menjadi prioritas utama. “Pencapaian ini menjadi pondasi penting bagi Perseroan untuk terus menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya, Jumat (24/7).
Realisasi penjualan untuk Domestic Market Obligation (DMO) mencapai sekitar 55 persen dari total produksi. Angka itu jauh melampaui ketentuan minimal 25 persen yang ditetapkan pemerintah.
Produksi dan Logistik Berjalan Stabil
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, PTBA memproduksi 19,45 juta ton batu bara. Volume angkutan yang berhasil direalisasikan mencapai 18,15 juta ton, dengan 17,47 juta ton di antaranya melalui jalur kereta api. Hal ini menunjukkan infrastruktur logistik perusahaan cukup andal dalam mendukung distribusi.
Dari sisi operasional tambang, perseroan menerapkan selective mining untuk menjaga efektivitas kegiatan. Stripping ratio tercatat sebesar 5,26 kali, masih dalam kisaran target tahunan perusahaan yang sebesar 5,63 kali.
Belanja Modal untuk Proyek Strategis
Untuk menjaga keberlanjutan bisnis, PTBA terus merealisasikan belanja modal (capital expenditure). Dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur logistik, termasuk proyek angkutan batu bara Tanjung Enim–Kramasan dan pembangunan Inpit Conveyor Banko.
Memasuki paruh kedua 2026, Bambang mengatakan perseroan akan fokus memperkuat keandalan operasional, menjaga efisiensi biaya, serta mengoptimalkan pasar domestik dan ekspor. “Kami juga akan melanjutkan berbagai proyek strategis guna mendukung pertumbuhan Perseroan secara berkelanjutan di tengah dinamika industri batu bara global,” pungkasnya.