MALUKU UTARA — Fenomena anak muda yang memilih untuk tidak terikat pada ritual agama tertentu kerap menjadi pertanyaan besar bagi orang tua. Selama ini, banyak yang mengira keputusan tersebut muncul dari pergaulan atau pengaruh luar. Padahal, menurut seorang dokter spesialis kejiwaan, akar masalahnya bisa jauh lebih dekat, yaitu dari pola asuh dan dinamika emosional di dalam keluarga.
Kesehatan Mental Anak yang Sering Disalahartikan
dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ., atau yang akrab disapa dr. Vivi, menjelaskan bahwa generasi muda saat ini memiliki kesadaran yang jauh lebih tinggi terhadap isu kesehatan mental. Mereka lebih berani bersuara dan mencari bantuan profesional dibandingkan generasi sebelumnya.
"Anak-anak sekarang lebih berani membicarakan mental health. Bukan berarti orang zaman dulu tidak punya masalah kesehatan mental, tetapi dulu mungkin belum sadar dan belum banyak informasi. Sekarang pembahasannya lebih terbuka," ujar dr. Vivi dalam podcast YouTube Helmy Yahya Bicara.
Sayangnya, kesadaran ini kerap berbenturan dengan stigma yang masih melekat di kalangan orang tua. Saat anak mengeluh cemas atau depresi, respons yang sering muncul justru mengarahkan mereka pada hal-hal spiritual, seperti "kurang bersyukur" atau "harus lebih dekat dengan Tuhan".
Saat Nasihat Ibadah Menjadi Bumerang
Dr. Vivi menyoroti bahwa pendekatan yang selalu mengaitkan masalah psikologis dengan ibadah tanpa memahami kondisi emosional anak bisa berdampak sebaliknya. Anak yang merasa masalahnya tidak didengar akhirnya bisa memiliki persepsi negatif terhadap agama itu sendiri.
"Masih ada stigma. Ketika anak ingin ke psikiater, orang tua bilang, 'Sudah ibadah saja, kurang bersyukur, kurang dekat sama Tuhan.' Semuanya dibawa ke arah spiritual," tuturnya.
Akibatnya, anak-anak ini justru menjauh dari ritual keagamaan karena merasa semua persoalan hidup selalu disederhanakan menjadi soal ibadah. Padahal, yang mereka butuhkan saat itu adalah dukungan emosional dan solusi nyata atas masalah yang dihadapi.
Kemunafikan Orang Tua yang Membentuk Pandangan Anak
Selain cara merespons masalah, keteladanan orang tua menjadi faktor krusial lainnya. Anak bisa mengalami kebingungan besar ketika melihat orang tua rajin mengajarkan nilai-nilai agama, tetapi perilaku sehari-harinya bertolak belakang.
"Kalau orang tua menyuruh beribadah, tetapi perilakunya buruk, itu bisa membuat anak mempertanyakan nilai yang diajarkan," jelas dr. Vivi.
Kondisi ini diperparah ketika orang tua dikenal taat beribadah namun melakukan tindakan yang melanggar ajaran, seperti bersikap kasar, tidak jujur, atau bahkan berselingkuh. Dr. Vivi menegaskan, yang sebenarnya dibenci anak bukanlah agamanya, melainkan figur orang tuanya.
"Yang akhirnya dibenci sebenarnya bukan agamanya, tetapi figur orang tuanya. Namun, karena agama dilekatkan dengan sosok tersebut, anak kemudian memiliki pandangan negatif terhadap agama," bebernya.
Apa yang Seharusnya Orang Tua Lakukan?
Kunci utama yang perlu dipegang orang tua adalah memisahkan antara perilaku manusia dan nilai agama. Anak perlu diajak berdialog, bukan hanya diarahkan. Mendengarkan keluhan mereka tanpa langsung menghakimi akan membuat anak merasa aman dan nyaman terbuka pada orang tua.
Daripada langsung memberikan nasihat spiritual, cobalah pahami dulu apa yang sedang mereka rasakan. Jika anak menunjukkan tanda-tanda gangguan mental seperti murung berkepanjangan, kehilangan minat, atau sulit tidur, jangan ragu untuk membawanya ke psikolog atau psikiater. Konsultasi profesional adalah langkah nyata yang menunjukkan kepedulian, bukan berarti kita gagal sebagai orang tua.
Dengan menjadi pendengar yang baik dan teladan yang konsisten, orang tua dapat membantu anak membangun fondasi kesehatan mental yang kuat tanpa harus merusak hubungan mereka dengan nilai-nilai agama.