MALUKU UTARA — Beban keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk turun 11,6% menjadi USD222,4 juta pada semester I-2026 dari USD251,6 juta di periode yang sama tahun lalu. Penurunan itu tidak lepas dari suntikan modal Danantara Asset Management senilai Rp 23,67 triliun yang masuk pada Desember 2025. Perbaikan ini menjadi sinyal awal pemulihan kinerja emiten berkode GIAA tersebut.
Garuda Indonesia merinci penurunan beban keuangan itu dalam keterbukaan informasi yang dirilis Rabu (30/9/2026). Beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi, hingga utang usaha tercatat lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Efek paling cepat terasa pada beban keuangan grup kepada Pertamina. Setelah dana Danantara masuk, anak usaha Citilink melunasi pokok utang restrukturisasi kepada Pertamina pada 10 Desember 2025.
Pelunasan pokok utang itu memangkas beban keuangan grup kepada Pertamina menjadi USD4,7 juta dari USD11,8 juta setahun sebelumnya. Beban bunga utang usaha secara keseluruhan juga turun lebih dari separuh menjadi USD6,6 juta.
Perbaikan tercatat merata di beberapa pos. Berikut rincian penurunan beban keuangan Garuda pada semester I-2026:
Angka-angka itu menunjukkan tekanan bunga yang sebelumnya membebani neraca perseroan mulai mengendur. Bagi pemegang saham, penurunan beban bunga membuka ruang perbaikan laba bersih ke depan.
Selain menekan beban bunga, suntikan modal Danantara membuat Garuda mampu mengaktifkan kembali puluhan pesawat yang sebelumnya grounded. Perseroan juga memakai dana itu untuk membayar utang usaha.
Banyaknya pesawat Garuda yang parkir sempat menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Pengaktifan kembali armada itu berdampak langsung pada kapasitas angkut perseroan.
Penambahan pesawat operasional berpotensi mendorong pendapatan tiket dan memperbaiki utilisasi armada. Dua faktor itu menjadi kunci bagi maskapai pelat merah untuk mengejar target kinerja di semester II-2026.
Modal Rp 23,67 triliun dari Danantara Asset Management pada Desember 2025 berfungsi sebagai penyangga likuiditas sekaligus alat restrukturisasi utang. Dana itu tidak hanya menambal kas, tetapi juga memutus siklus bunga tinggi yang menekan laporan keuangan.
Perbaikan beban keuangan biasanya menjadi indikator awal sebelum laba bersih ikut membaik. Namun, keberlanjutan tren ini bergantung pada kemampuan Garuda menjaga tingkat operasional pesawat dan mengendalikan biaya usaha.
Investor perlu mencermati laporan keuangan semester II-2026 untuk melihat apakah penurunan beban keuangan berlanjut ke perbaikan margin. Tanpa kenaikan pendapatan yang sepadan, efisiensi biaya bunga saja belum cukup mengembalikan kinerja GIAA ke level pra-pandemi.