Pencarian

Kebakaran TPA Buku Deru-Deru Ternate Lumpuhkan 32 Pemulung, Warga Jambula Mengungsi Hindari Asap

Rabu, 07 Oktober 2026 • 15:31:01 WIB
Kebakaran TPA Buku Deru-Deru Ternate Lumpuhkan 32 Pemulung, Warga Jambula Mengungsi Hindari Asap
Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar TPA Buku Deru-Deru di Ternate.

TERNATE — Api pertama kali terlihat dari arah TPA saat matahari sedang terik. Dalfa M. Naser (54), pemulung yang tinggal tak jauh dari lokasi, baru saja terlelap setelah bekerja sejak pagi ketika teriakan warga membangunkannya. Ia bergegas keluar rumah dan melihat asap hitam mulai merayap dari gunungan sampah.

Dalfa langsung teringat suaminya, Safri Abata (60), yang masih berada di TPA. Ia berlari menuju lokasi. Dari kejauhan, kobaran api sudah terlihat di sejumlah titik, membubung tinggi dan membuat langit di atas TPA tampak keruh.

Api Berputar Tajam di Antara Gunungan Sampah

Kebakaran berlangsung berjam-jam. Petugas pemadam kebakaran mengerahkan tujuh mobil pemadam dengan sekitar 70 personel, dibantu mobil tangki air yang terus membawa pasokan ke lokasi.

Memadamkan api di kawasan yang dipenuhi tumpukan sampah bukan pekerjaan mudah. Api menjalar di antara material yang mudah terbakar. Asap terus keluar dari tumpukan sampah bahkan ketika sebagian kobaran mulai dapat dikendalikan.

Di tengah kepulan asap, api beberapa kali berputar tajam. Lidah api menjalar di antara gunungan sampah yang menjadi tempat Dalfa dan puluhan pemulung lainnya mencari nafkah setiap hari.

Asap Menyebar Satu Kilometer, Warga Mengungsi ke Jambula

Ketua Forum Masyarakat Sulamadaha Terdampak Kebakaran Buku Deru-Deru, Rifaldi Drakel, mengatakan dampak kebakaran dirasakan warga hingga permukiman yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi TPA. Asap tebal dan bau menyengat menyebar ke lingkungan tempat warga tinggal.

Sejumlah warga mengalami keluhan seperti sesak napas, pusing, hingga iritasi mata. Beberapa warga memilih mengungsi ke Kelurahan Jambula karena khawatir terhadap kepungan asap. Anak-anak dan bayi ikut dibawa menjauh dari kawasan yang terdampak.

"Hal ini menyebabkan aktivitas warga terganggu, dan warga tidak dapat beraktivitas di luar rumah termasuk mencari nafkah," ujar Rifaldi.

Penghasilan 32 Pemulung Terhenti

Dalfa dan puluhan pemulung lainnya hidup dari sesuatu yang dibuang orang lain. Setiap hari mereka datang ke TPA untuk mencari plastik, botol, kardus, dan barang bekas lain yang masih memiliki nilai jual. Pekerjaan itu dilakukan di tengah bau, panas, debu, serta risiko yang melekat pada lingkungan tempat pembuangan sampah.

Ada 32 pemulung yang menggantungkan hidup dari tumpukan sampah di TPA Buku Deru-Deru. Dalfa bekerja di tempat itu bersama suaminya. Selain memulung, Safri sesekali bekerja sebagai sopir mobil pengangkut sampah.

"Jadi kalau TPA ditutup karena kebakaran, torang punya penghasilan ikut berhenti," jelas Dalfa.

Ketakutan pada Asap yang Berbeda

Dalfa masih mengenakan masker pemberian petugas kesehatan saat ditemui pada Senin, 6 Oktober 2026. Wajahnya menyimpan kecemasan. Ia belum tahu kapan bisa kembali memulung.

Menurut Dalfa, asap yang keluar dari tumpukan sampah berbeda dengan asap kebakaran biasa yang pernah ia lihat. Ia khawatir asap itu menimbulkan penyakit, terutama karena yang tinggal di sekitar kawasan bukan hanya orang dewasa.

"Ada anak-anak. Ada bayi. Ada orang tua-tua (lanjut usia), itu yang torang takut," jelasnya.

Pada hari pertama kebakaran, warga turun tangan membantu petugas. Dalfa menyebut warga laki-laki dan perempuan ikut memadamkan api dari siang hingga malam.

"Hari pertama itu api basar (besar). Api menyala dari siang sampai malam. Torang (kami) warga di sini, perempuan laki-laki ikut kase mati (padamkan) api," katanya setelah menerima bantuan dari Pemerintah Kota Ternate.

Bagi warga yang hidup di sekitar TPA, kebakaran tidak berhenti ketika api mulai dipadamkan. Asap masih menjadi persoalan. Dalfa kini menghadapi dua ketakutan sekaligus: kehilangan penghasilan dan ancaman kesehatan bagi keluarganya.

Follow www.kabarternate.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: halmaheranesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks