GOTO Bertahan di Rp 50 Jelang Batas Bawah Rp 1 Berlaku 28 September

Penulis: Edi Wahyono  •  Kamis, 24 September 2026 | 08:05:31 WIB
Saham GOTO bertahan di level Rp 50 menjelang berlakunya batas bawah harga saham Rp 1 pada 28 September 2026.

MALUKU UTARA — Bursa Efek Indonesia menetapkan harga minimum saham Rp 1 mulai 28 September 2026, mengubah batas bawah perdagangan yang sebelumnya Rp 50. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi emiten paling terpapar aturan itu karena bertahan di level gocap sejak Mei 2026. Antrean jual saham GOTO tercatat 392,50 juta lot pada perdagangan Rabu (23/9).

Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menilai saham GOTO masih berisiko tertekan dan volatilitas tinggi dalam jangka pendek begitu batas bawah Rp 50 dibuka. Tekanan itu diperkuat antrean jual dalam jumlah besar yang sudah terbentuk sebelum aturan berlaku.

"Namun, perubahan aturan menjadi Rp 1 tidak otomatis membuat GOTO menjadi saham gorengan," kata Thoriq kepada Katadata.co.id, Rabu (23/9).

Fundamental GOTO Mulai Membaik

Thoriq menyebut GOTO masih punya kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, dan basis investor institusi. Kinerja perseroan juga menunjukkan perbaikan, tercermin dari pendapatan bersih semester I 2026 yang tumbuh 28% secara tahunan menjadi Rp 10,99 triliun.

EBITDA yang disesuaikan melonjak 134% menjadi Rp 1,92 triliun. GOTO juga membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut, mencatat pertumbuhan kuat di bisnis fintech, dan menyiapkan program buyback hingga Rp 3,5 triliun.

Komisi GoRide 8% Pangkas Target EBITDA

Sentimen negatif datang dari kebijakan pemerintah yang membatasi komisi GoRide menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 20% sejak 1 Juli 2026. Kebijakan itu mendorong GOTO memangkas target EBITDA bisnis On-Demand Services 2026 menjadi Rp 1,4–1,5 triliun dari sebelumnya Rp 1,7–1,8 triliun.

"Jadi, dalam jangka pendek pasar masih mencari keseimbangan harga baru, sementara investor jangka menengah perlu melihat apakah pertumbuhan fintech mampu mengimbangi tekanan margin dari bisnis transportasi," ungkap Thoriq.

Morgan Stanley Borong 400 Juta Saham di Rp 27

Di tengah antrean jual, investor asing Morgan Stanley & Co International PLC justru memborong 400 juta saham GOTO melalui pasar negosiasi pada 18 September 2026 dengan harga Rp 27 per saham. Aksi itu meningkatkan kepemilikan Morgan Stanley di GOTO menjadi 80,93 miliar saham atau setara 7,02%.

Pergerakan harga saham GOTO yang dinilai bakal kencang setelah aturan berlaku diperkirakan berdampak pada sejumlah investor besar. Telkomsel dan Morgan Stanley disebut memiliki kecenderungan menyimpan saham untuk jangka lama.

Posisi Telkomsel dan Investor IPO

Telkomsel masih memegang sekitar 23,72 miliar saham GOTO atau setara 1,99%, dengan harga perolehan sekitar Rp 270 per saham. Pada harga GOTO Rp 50, Thoriq memproyeksikan nilai kepemilikan Telkomsel mencapai sekitar Rp 1,19 triliun, sedangkan nilai perolehannya sekitar Rp 6,40 triliun.

Selisihnya sekitar Rp 5,22 triliun. Telkomsel tidak langsung membukukan seluruh selisih itu sebagai kerugian di laporan laba rugi. Pada semester I 2026, Telkom membukukan unrealized loss dari investasi GOTO sekitar Rp 332 miliar karena mencatat investasi berdasarkan perubahan fair value antarperiode.

"Secara sederhana, setiap penurunan Rp 1 pada saham GOTO dapat mengurangi nilai kepemilikan Telkomsel sekitar Rp 23,7 miliar, tetapi Telkomsel masih memandang investasi GOTO sebagai kemitraan strategi jangka panjang," ucap Thoriq.

Bagi investor yang membeli GOTO saat IPO di harga Rp 338 per saham, posisi saat ini tergolong berat. Dengan GOTO bertahan lama di Rp 50, sahamnya telah anjlok sekitar 85% dan perlu kenaikan hingga 576% untuk kembali ke level IPO.

Saran untuk Investor yang Masih Nyangkut

Thoriq menilai investor tidak bisa hanya mengandalkan harapan harga GOTO kembali naik ke Rp 338. Kondisi bisnis GOTO saat ini juga sudah berbeda dibandingkan tahun 2022.

Peluang rebound tetap terbuka, namun sangat bergantung pada konsistensi perseroan menjaga profitabilitas. Bagi investor yang masih nyangkut, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada prospek bisnis dan toleransi risiko, bukan harga beli.

"Saya juga melihat average down sebaiknya tidak dilakukan secara agresif sebelum harga baru setelah 28 September mulai terbentuk lebih stabil," kata Thoriq.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top