MALUKU UTARA — Asia Timur mencatat arus penanaman modal asing (PMA) sekitar USD 245 miliar pada 2025. Kawasan Asia Tenggara sendiri mencatat kenaikan dari sekitar USD 225 miliar pada 2024 menjadi hampir USD 250 miliar pada 2025, menjadikannya salah satu wilayah dengan pertumbuhan PMA tercepat di dunia.
Relokasi rantai pasok global, ekspansi sektor manufaktur, dan minat investor internasional terhadap pasar ASEAN menjadi pendorong utama. Dalam forum yang dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno serta analis DBS Group Research, Bank DBS Indonesia memaparkan sejumlah perspektif strategis bagi perusahaan multinasional yang mempertimbangkan ekspansi ke Indonesia.
DBS Group Research menjabarkan empat faktor yang menopang arus investasi ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Pertama, tren global China+1 dan Taiwan+1 yang mengubah strategi rantai pasok dan membuka peluang bagi Indonesia sebagai pusat manufaktur EV dan tujuan investasi di Asia Tenggara.
Kedua, agenda hilirisasi Indonesia yang dinilai meningkatkan nilai tambah industri nasional sekaligus membuka peluang investasi di sektor energi, infrastruktur, dan manufaktur strategis. Ketiga, kombinasi keunggulan sumber daya, pasar yang berkembang, dan dukungan kebijakan dinilai menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam ekosistem teknologi, elektronik, semikonduktor, dan kendaraan listrik di kawasan Asia.
Keempat, prospek PMA ASEAN yang terus meningkat didukung reformasi struktural, kepastian regulasi, dan investasi berkelanjutan.
Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao menilai ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru.
"Keunggulan Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, tetapi juga pada kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi," ujar Radhika Rao.
Arah suku bunga AS dan kondisi pasar global disebut turut memengaruhi arus modal, nilai tukar Rupiah, serta pendanaan Indonesia menuju 2027. Perusahaan multinasional perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap biaya modal dan perencanaan keuangan.
Dari sisi realisasi, Riyatno menyebut capaian semester pertama 2026 hampir mencapai 50% dari target pertumbuhan 7,2% YoY. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif melalui layanan end-to-end, mulai dari peta jalan sektor investasi, reformasi regulasi, hingga streamlining perizinan lewat aplikasi OSS Versi 2 yang didukung AI dan blockchain.
"Di tengah dinamika global dan persaingan yang semakin intensif, potensi investasi di Indonesia masih sangat besar dengan resiliensi ekonomi yang cukup baik," kata Riyatno.
Indonesia dinilai berada pada posisi strategis untuk menarik investasi dalam jumlah besar, ditopang faktor pendorong dari sisi penawaran maupun permintaan. Namun persaingan antarnegara di kawasan untuk menarik investasi semakin ketat.
Penguatan infrastruktur fisik seperti energi, transportasi, dan logistik, serta infrastruktur non-fisik seperti regulasi, kualitas sumber daya manusia, dan kemudahan berusaha, menjadi faktor penting untuk menarik sekaligus mempertahankan minat investor. Kombinasi faktor makroekonomi, regulasi, dan geopolitik yang terus berkembang menentukan langkah perusahaan multinasional untuk memperluas (expand), memperdalam (deepen), atau meninjau ulang (reassess) eksposur bisnis mereka.
Pilihan itu bergantung pada sektor, strategi, dan tingkat toleransi risiko masing-masing perusahaan, serta kemampuan mengelola pembiayaan, risiko, resiliensi, dan efisiensi operasional secara bersamaan. Investasi mengandung risiko.