MALUKU UTARA — JETOUR masuk pasar Indonesia dengan strategi berani: menawarkan dua SUV hybrid plug-in (PHEV) sekaligus, T1 dan T2, dengan teknologi bernama i-DM (intelligent Dual Motor). Setelah menelisik skema teknis dari presentasi resmi PT JETOUR Sales Indonesia, satu hal langsung terlihat—i-DM bukan sistem hybrid paralel sederhana. Arsitekturnya memakai mesin bensin yang dirancang khusus untuk kerja hybrid, dua motor listrik dengan peran berbeda, dan baterai LFP dari CATL. Kombinasi ini menghasilkan efisiensi termal mesin di atas 44,5 persen, angka yang masuk kategori sangat efisien untuk mesin bensin turbo 1.500 cc.
Yang membedakan i-DM dari sistem hybrid konvensional adalah pembagian kerja motor listriknya. Motor pertama berperan sebagai generator—menghasilkan listrik untuk mengisi baterai saat mesin bensin menyala, tapi bisa ikut menambah tenaga saat dibutuhkan. Motor kedua tertanam di dalam transmisi dan bertugas menggerakkan roda secara langsung, sekaligus memanen energi saat pengereman (regenerative braking).
Baterai LFP 18,4 kWh dari CATL diklaim memberikan jarak tempuh listrik murni hingga 90 km dalam siklus NEDC. Untuk pengisian, DC fast charging 50 kW mengisi 30-80 persen dalam 27 menit, sementara AC charging 6,6 kW butuh sekitar 180 menit untuk 30-100 persen. Angka ini sebenarnya standar di kelas PHEV, tapi kapasitas baterainya lebih besar dari kebanyakan kompetitor di segmen SUV hybrid Indonesia.
JETOUR sengaja membedakan karakter T1 dan T2 melalui transmisinya. T1 memakai 1-Speed DHT yang dirancang untuk perpindahan tenaga linier dan mulus—cocok untuk stop-and-go di perkotaan. T2 memakai 3-Speed DHT yang memungkinkan akselerasi lebih agresif di kecepatan tinggi dan medan menantang.
Irwan Nugraha Kurnia, Product Senior Manager PT JETOUR Sales Indonesia, menjelaskan filosofi ini: "Kami memahami bahwa setiap konsumen memiliki preferensi berkendara yang berbeda. Ada yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan untuk mobilitas sehari-hari, sementara ada pula yang mencari performa lebih tinggi untuk perjalanan jarak jauh maupun menjelajah berbagai medan."
Artinya, T1 adalah pilihan rasional untuk pengguna yang 80 persen waktunya di dalam kota. T2 baru terasa manfaatnya kalau kamu rutin menempuh rute antar kota atau sering membawa mobil ke medan berbukit.
Kedua model memakai basis mesin yang sama: ACTECO 1.5 TGDI generasi kelima dengan tenaga 100 kW (156 PS) dan torsi 220 Nm. Mesin ini bekerja bersama motor listrik untuk menghasilkan output gabungan yang lebih besar, meski angka pastinya tidak disebut dalam paparan resmi. Efisiensi transmisi diklaim mencapai 97,6 persen—angka yang sangat tinggi, artinya minim energi terbuang saat penyaluran tenaga.
Perlu dicatat, klaim efisiensi termal 44,5 persen dan efisiensi transmisi 97,6 persen adalah angka pabrikan. Pengujian independen di Indonesia dengan kondisi jalan dan kualitas BBM lokal belum tersedia, jadi angka konsumsi bahan bakar real-world masih perlu diverifikasi.
Secara teknis, i-DM adalah sistem hybrid yang dirancang dengan matang. Pembagian tugas dua motor listriknya lebih cerdas daripada kebanyakan mild hybrid yang beredar di Indonesia, dan baterai LFP dari CATL adalah pilihan yang tepat untuk iklim tropis karena lebih tahan panas dan punya siklus hidup lebih panjang.
Untuk pembeli yang butuh SUV hybrid efisien buat harian, T1 dengan 1-Speed DHT adalah pilihan paling masuk akal. T2 baru worth it jika kamu memang membutuhkan karakter akselerasi lebih buas untuk perjalanan jauh atau medan menantang—tapi konsekuensinya, konsumsi BBM saat mesin bensin bekerja akan lebih tinggi.
Keputusan akhir tetap bergantung pada harga. Kalau JETOUR bisa memposisikan T1 di bawah Rp 450 juta, ini akan menjadi salah satu opsi PHEV paling menarik di pasar Indonesia. Kalau tidak, pertarungannya akan jauh lebih berat.