MALUKU UTARA — Selama lebih dari satu dekade, Manchester United identik dengan pembelian pemain termahal di dunia. Nama-nama seperti Paul Pogba, Alexis Sanchez, hingga Cristiano Ronaldo diboyong bukan hanya karena kebutuhan taktik, tetapi juga untuk memenuhi mesin komersial klub. Akibatnya, klub terjebak dalam lingkaran setan "United tax" — membayar harga selangit untuk pemain yang seringkali tidak cocok dengan skema permainan pelatih.
Masalah utama United bukan hanya soal transfer mahal, tetapi juga struktur gaji yang kacau. Alexis Sanchez pernah menerima gaji hampir £500 ribu per pekan, sementara David De Gea menjadi kiper termahal dalam sejarah. Ketika performa menurun, klub tidak mampu menjual pemain karena tidak ada yang sanggup membayar gaji mereka, membuat skuad dipenuhi pemain cadangan bergaji selangit.
Ketergantungan pada satu bintang juga menjadi kelemahan fatal. Bruno Fernandes, misalnya, adalah pencipta peluang terbanyak di lima liga top Eropa sejak 2020. Namun, tanpa dukungan skuad yang solid, performa individu tersebut tidak berbanding lurus dengan kesuksesan tim. Pendekatan "heroball" ini membuat United tertinggal dari rival seperti Arsenal, Liverpool, dan Manchester City yang membangun permainan kolektif.
Perubahan dimulai ketika INEOS mengambil alih. Alih-alih memburu nama besar, United kini fokus pada pemain yang sudah teruji di Premier League. Kedatangan Bryan Mbeumo dan Matheus Cunha menjadi bukti pergeseran ini. Mereka bukan pemain untuk menjual jersey, melainkan profil yang siap bermain dengan intensitas tinggi sejak menit pertama.
Kunci lainnya adalah disiplin finansial. Struktur gaji kini dikunci di bawah £200 ribu per pekan. Ini menjelaskan mengapa United mundur dari perburuan Sandro Tonali yang meminta gaji £270 ribu per pekan. Klub juga menunjukkan kemampuan untuk bernegosiasi dengan tenang, seperti saat berhasil mengamankan Youri Tielemans dengan klausul rilis £35 juta yang masuk akal.
Strategi baru ini juga membuka jalan bagi pemain akademi seperti Kobbie Mainoo. Kehadiran pemain senior berpengalaman seperti Tielemans tidak menghalangi perkembangan Mainoo, justru memberikan dukungan yang dibutuhkan. Mainoo tetap menjadi jantung permainan di masa depan, dengan para pemain baru berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti.
Meskipun pendekatan ini dianggap kurang glamor, bukti menunjukkan bahwa model seperti ini efektif. PSG telah membuktikan bahwa meninggalkan kebiasaan membeli superstar bisa membawa hasil positif. United kini tidak lagi membeli untuk memenangkan "jendela transfer", melainkan untuk membangun tim yang kompetitif dan berkelanjutan, baik di Premier League maupun kompetisi Eropa.