Revoy Hybrid Tandem Trailer Kantongi Pendanaan Rp 432 Miliar, Target Operasi Puluhan Unit pada 2027

Penulis: Boyke Sihombing  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:11:31 WIB
Revoy Hybrid Tandem Trailer mengumumkan perolehan pendanaan senilai Rp 432 miliar untuk pengembangan operasional unitnya.

MALUKU UTARA — Pendanaan segar ini tiba di waktu yang krusial. Revoy baru saja menuntaskan uji coba konsep selama setahun penuh bersama Ryder Systems, dan berencana menempatkan empat unit lagi di rute sepanjang 200 mil di kawasan Pacific Northwest (PNW) pada akhir tahun ini. Angka "puluhan" unit tambahan ditargetkan mengaspal pada 2027.

Konsep yang ditawarkan Revoy sebenarnya sederhana di atas kertas. Sebuah dolly listrik dengan axle penggerak disisipkan di antara truk semi konvensional dan trailer muatan. Kopling kelima (fifth wheel) traktor terhubung ke hitch Revoy, lalu trailer angkut dipasang ke fifth wheel milik Revoy. Sistem AI pada electronic control unit (ECU) menghitung distribusi tenaga, lalu kombinasi tiga bagian ini melaju dengan e-axle bertenaga tinggi yang membantu akselerasi, sementara mesin diesel bekerja optimal di kecepatan jalan tol.

Bukan Sekadar Trailer, Melainkan Layanan Bahan Bakar

Model bisnis Revoy juga berbeda dari penjualan unit biasa. Perusahaan tidak memungut biaya awal apa pun dari operator armada. Sebagai gantinya, pengguna membayar berdasarkan jarak tempuh atau per mil.

"Kami menawarkan jalur elektrifikasi yang jauh lebih mudah bagi armada. Ini lebih mirip produk bahan bakar—kami menagih berdasarkan diesel yang berhasil dihemat, ditambah sisa diesel dan biaya layanan yang semuanya sudah termasuk," ujar Ian Rust, pendiri Revoy EV, dalam pernyataan resminya.

Klaim penghematannya cukup agresif. Pada rute 250 mil, truk dengan konsumsi 7 mpg diperkirakan membakar 35 galon diesel. Dengan asumsi harga US$ 4 per galon, biaya bahan bakar mencapai US$ 140. Revoy mengklaim mampu memangkas angka itu hingga setengahnya, dan menagih armada dari selisih penghematan tersebut.

Berat 22.000 Pon dan Pertanyaan Soal Regulasi

Namun konsep ini bukannya tanpa kritik. Bobot dolly listrik Revoy mencapai 22.000 pon—hanya 2.000 pon lebih ringan dari Volvo VNR Electric dan lebih berat hingga 6.000 pon dibanding Freightliner eCascadia. Regulasi nasional AS membatasi bobot total truk dan trailer di angka 80.000 pon tanpa izin khusus. Karena Revoy tidak dikategorikan sebagai kendaraan nol emisi (ZEV), ia tidak mendapat kelonggaran tambahan 2.000 pon yang diberikan untuk truk listrik baterai murni.

Artinya, menambahkan Revoy ke rig secara efektif mengurangi kapasitas angkut muatan komersial hingga 22.000 pon. Ada pula kekhawatiran soal karakteristik handling yang "aneh" akibat tambahan titik artikulasi pada kombinasi truk-trailer.

Stasiun Penukaran Baterai di Texas dan Arkansas

Revoy saat ini telah mengoperasikan dua stasiun penukaran baterai (swap station) di Texas dan Arkansas. Pengemudi cukup masuk ke stasiun, disambut petugas, lalu baterai yang habis ditukar dalam waktu sekitar lima menit. Perusahaan juga berencana membuka stasiun serupa di California dan Oregon.

Kritik lain datang dari Alex Lockie, jurnalis Commercial Carrier Journal, yang menyoroti aspek legal bobot kendaraan. Namun ia juga mencatat tren di industri angkutan barang bernilai tinggi: mayoritas muatan justru "cubing out" alias penuh volume sebelum mencapai batas berat maksimal. Seorang komentator menambahkan bahwa kombinasi tiga trailer sebenarnya sudah umum di wilayah barat AS, sehingga aspek jumlah artikulasi tidak sepenuhnya baru.

Dengan dana segar yang masuk, Revoy kini punya modal untuk membuktikan bahwa konsepnya layak produksi massal—atau justru menemui tembok regulasi yang lebih keras dari perkiraan.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: electrek.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top