Ritual Ake Ma Sou 2026 Digelar di Ternate, Wali Kota Sebut 60 Persen Air Bersih Warga Bergantung pada Mata Air Ake Gaale

Penulis: Edi Wahyono  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 15:37:31 WIB
Warga dan pejabat mengikuti prosesi Si Ruru Juanga dalam ritual Ake Ma Sou 2026 di Lingkungan Ake Gaale, Kelurahan Sangaji, Ternate, Senin (3/8/2026).

TERNATE — Di balik riak air jernih yang mengalir setiap hari untuk warga Kota Ternate, doa-doa kesyukuran terlantun khusyuk di Lingkungan Ake Gaale, Kelurahan Sangaji, Senin (3/8/2026) pagi. Masyarakat bersama Perumda Ake Gaale Kota Ternate menggelar ritual Ake Ma Sou 2026, sebuah tradisi warisan leluhur yang menjadi benteng kearifan lokal sekaligus alarm moral untuk merawat sumber kehidupan.

Prosesi Si Ruru Juanga menjadi puncak acara yang paling menyita perhatian. Dalam balutan adat yang kental, prosesi ini dimaknai sebagai simbol menolak bala sekaligus ungkapan syukur mendalam atas limpahan karunia air bersih.

Mata Air yang Menopang 60 Persen Kebutuhan Warga

Wali Kota Ternate M Tauhid Soleman yang hadir bersama Wakil Wali Kota Nasri Abubakar dan Direktur Perumda Ake Gaale Firman Mudaffar Sjah menegaskan vitalnya keberadaan mata air ini. Tak kurang dari 60 persen kebutuhan air bersih Kota Ternate bersumber dari Ake Gaale.

“Ritual ini sudah lama dilakukan masyarakat. Kearifan lokal yang diwariskan harus terus dijaga karena menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran bersama dalam melestarikan sumber air,” ujar Tauhid.

Fakta tersebut menempatkan Ake Gaale bukan sekadar kawasan geografis, melainkan urat nadi kehidupan warga. Kesadaran untuk tidak membuang sampah dan limbah sembarangan disebut sebagai harga mati demi keberlangsungan mata air tersebut.

Intrusi Air Laut dan Ancaman Pencemaran yang Membayangi

Di balik khidmatnya ritual, ancaman terhadap kelestarian Ake Gaale nyata adanya. Ketua Komunitas Save Ake Gaale, Alwan M. Arif, mengingatkan sumber air ini masih dibayangi risiko lingkungan yang serius.

Intrusi air laut menjadi ancaman pertama yang menggeser ekosistem pesisir dan berpotensi mengubah kualitas rasa serta kebersihan air. Potensi pencemaran dari limbah domestik juga mengintai kemurnian mata air jika tidak ditangani secara sistematis.

Dorongan Mewujudkan Kawasan Ruang Terbuka Hijau

Melihat ancaman tersebut, komunitas warga dan relawan melayangkan desakan kuat kepada pemerintah daerah. Agenda besar yang terus diperjuangkan adalah mengalihfungsikan kawasan Ake Gaale menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Agenda besar kami adalah mewujudkan kawasan Ake Gaale sebagai ruang terbuka hijau sehingga upaya perlindungan dan perbaikan kawasan sumber air dapat dilakukan secara lebih terarah,” tegas Alwan.

Harapan Masuk Agenda Resmi Dinas Kebudayaan

Alwan dan warga Sangaji berharap ritual Ake Ma Sou kelak tak sekadar menjadi hajatan komunitas lokal. Mereka mendorong tradisi ini masuk ke dalam agenda tahunan resmi Dinas Kebudayaan Kota Ternate.

Integrasi tersebut dinilai penting agar nilai-nilai konservasi berbasis budaya dapat terus diwariskan secara terstruktur kepada generasi muda. Perpaduan antara spiritualitas adat dalam Ake Ma Sou dan aksi nyata konservasi lingkungan mengirimkan pesan sederhana: merawat air adalah merawat kehidupan itu sendiri.

Reporter: Edi Wahyono
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top