MALUKU UTARA — Rencana ambisius ini mengemuka dalam Dialog Parlemen bertema "Berkolaborasi Menyukseskan 1.000 Desa Wisata di Jateng" yang digelar di Pinusia Park, Kalianyar, Kalirejo, Kabupaten Semarang, pekan lalu. Forum yang mempertemukan legislatif, pemerintah provinsi, dan akademisi ini menyusun strategi pengembangan pariwisata berbasis desa secara berkelanjutan.
Kabar menariknya, kualitas desa wisata Jawa Tengah mulai mendapat pengakuan internasional. Pada 2026, dua desa wisata masuk kategori Best Tourism Village tingkat dunia. Salah satunya adalah Desa Candirejo di Kabupaten Magelang, yang dikenal dengan suasana pedesaannya yang asri dan keramahan warganya.
Pengampu Bidang Pariwisata Disporapar Jawa Tengah, Riyadi Kurniawan, menegaskan pengembangan desa wisata tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah, tetapi juga kualitas destinasi. Setiap desa didorong memiliki unique selling proposition atau keunikan yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Untuk memperkuat promosi, Pemprov Jawa Tengah menyiapkan strategi digital dengan menargetkan pelatihan bagi 1.000 konten kreator hingga 2029. Hingga saat ini, sekitar 300 konten kreator telah mengikuti pelatihan untuk membantu mempromosikan potensi desa wisata.
Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah, Sri Hartini, menegaskan keberhasilan program desa wisata tidak cukup diukur dari banyaknya destinasi yang terbentuk. Menurutnya, pengelolaan yang profesional menjadi kunci agar desa wisata mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
"Pengembangan desa wisata membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari organisasi perangkat daerah, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat desa," ujar Sri Hartini. Generasi Z dinilai memiliki peran penting dalam memperluas promosi melalui berbagai platform digital, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama karena paling memahami potensi daerahnya.
Akademisi STIEPARI Semarang, Gana Wuntu, menilai desa wisata harus dikemas secara kreatif agar memiliki daya saing. Interaksi langsung antara wisatawan dengan masyarakat maupun pelaku UMKM menjadi nilai tambah yang mampu meningkatkan kepuasan pengunjung sekaligus menggerakkan perekonomian desa.
Salah satu contohnya adalah wisata edukasi pembuatan tempe yang memungkinkan wisatawan belajar langsung dari para perajin. Pengalaman semacam ini tidak bisa didapatkan di destinasi konvensional dan menjadi pembeda yang kuat bagi desa wisata.
Instruktur Ahli Muda Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Tengah, Yeni Puspitasari, menambahkan pemerintah turut menyiapkan sumber daya manusia sektor pariwisata melalui berbagai pelatihan. Mulai dari pelayanan wisatawan, kebersihan lingkungan, hingga sertifikasi kompetensi.
Bagi traveler yang ingin merasakan pengalaman autentik, desa wisata di Jawa Tengah menawarkan beragam aktivitas: belajar budaya lokal, menikmati kuliner khas, hingga berinteraksi langsung dengan perajin UMKM. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari saat aktivitas masyarakat desa sedang berlangsung.
Untuk informasi terkini mengenai desa wisata mana yang sudah siap menerima kunjungan, wisatawan dapat mengonfirmasi langsung melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah. Durasi ideal untuk mengeksplorasi satu desa wisata adalah 2-3 jam, cukup untuk menikmati suasana dan berinteraksi dengan warga setempat.