TERNATE — Ratusan pohon kelapa milik warga di Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, Maluku Utara, hangus dilalap api pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 14.00 WIT. Kebakaran yang melanda kawasan perkebunan di belakang permukiman Jalan Tua itu diperkirakan menghanguskan lahan seluas empat hektare.
Warga setempat, Junaidi Abas, mengatakan api pertama kali terlihat setelah sekelompok orang melakukan pembakaran daun kelapa pasca-pembersihan lahan. Kondisi cuaca yang tengah kering membuat api dengan cepat membesar dan merambat ke area perkebunan.
“Ada orang naik kalapa, terus mereka bakar daun kalapa. Mungkin dia pikir api cuma sebatas itu, tapi karena sekarang lagi kekeringan, api langsung merembet,” ujar Junaidi kepada Cermat.
Junaidi menjelaskan, kobaran api menjalar hingga lebih dari satu kilometer dari titik awal. Selain pohon kelapa yang menjadi komoditas utama warga, sejumlah pohon berukuran besar di kawasan perkebunan juga ikut terbakar.
“Kalapa yang sudah tinggi juga hangus. Banyak juga pohon-pohon besar yang terbakar,” katanya.
Titik awal kebakaran berada sekitar 50 meter dari akses Jalan Tua menuju kawasan perkebunan. Beruntung, api tidak sampai mengancam permukiman warga yang jaraknya cukup jauh dari lokasi kejadian.
Tanpa menunggu bantuan petugas pemadam, warga langsung bergerak secara swadaya untuk menjinakkan api. Informasi kebakaran yang menyebar cepat membuat banyak warga berbondong-bondong menuju lokasi, termasuk mereka yang tengah melaksanakan kerja bakti di masjid.
“Masyarakat yang tangani sendiri. Alhamdulillah waktu itu banyak orang lagi kerja bakti di masjid, jadi langsung ditelepon dan ramai-ramai datang bantu padamkan api,” ungkap Junaidi.
Keterbatasan peralatan pemadaman membuat warga mengandalkan sepeda motor dan kendaraan pikap untuk mengangkut air ke lokasi. Pelepah kelapa yang dibasahi serta tanah juga digunakan untuk menghambat laju api agar tidak semakin meluas.
Hingga sore hari, api dilaporkan sudah berhasil dikendalikan dan tidak lagi melebar ke area lain. Meski demikian, warga masih berjaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali bara api yang tersisa.
“Alhamdulillah sekarang api sudah tidak melebar lagi, tapi warga masih siaga karena masih ada asap-asap di lokasi,” tutup Junaidi.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko kebakaran lahan di musim kemarau, terutama bagi warga yang kerap melakukan pembakaran sampah atau sisa tanaman saat membuka lahan perkebunan.