Meti Cottage di Halmahera Utara Jadi Pilihan Workation, Padukan Ecotourism dan Jejak Sejarah Perang Dunia II

Penulis: Fiqri Ramadhan  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:43:01 WIB
Pemandangan udara Meti Cottage di Pulau Meti, Halmahera Utara, yang memadukan konsep ekowisata dengan bangunan kayu dan bambu.

HALMAHERA UTARA — Meti Cottage di Pulau Meti, Kecamatan Tobelo Timur, Kabupaten Halmahera Utara, menjadi pilihan baru bagi pekerja remote yang ingin menggabungkan aktivitas kerja dengan liburan. Penginapan yang berada di seberang Desa Mawea ini mengusung konsep ecotourism dengan bangunan berbahan kayu dan bambu, serta mengandalkan ventilasi alami tanpa mengganggu ekosistem sekitar.

Pengelola mengklaim fasilitas pendukung untuk bekerja tersedia lengkap, termasuk wifi berkecepatan tinggi dan meeting room terbuka. Tamu yang datang untuk keperluan rapat daring atau presentasi tidak akan terkendala sinyal di lokasi ini.

Fasilitas dan Aktivitas yang Ditawarkan untuk Pengunjung

Meti Cottage menyediakan beberapa tipe akomodasi yang disesuaikan dengan kebutuhan tamu, mulai dari family room, romantic room, gazebo, hingga tenda. Setiap pilihan menawarkan pengalaman berbeda, seperti gazebo yang memungkinkan tamu tidur di tepi pantai dengan suara deburan ombak.

Seluruh paket menginap sudah termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Menu yang disajikan didominasi makanan laut dan buah tropis. Pengelola juga menyediakan opsi sarapan di Pasir Timbul, sebuah pulau pasir putih yang hanya muncul saat air laut surut.

Berenang di laut biru yang jernih menjadi aktivitas paling diminati pengunjung. Suhu air yang hangat dan tenang kerap dimanfaatkan tamu sebagai terapi pelepas penat setelah bekerja. Aktivitas lain seperti snorkeling dan diving juga tersedia untuk menikmati terumbu karang yang masih terjaga.

Praktik Pariwisata Berkelanjutan yang Diterapkan Pengelola

Adi, pemilik Meti Cottage, telah mengembangkan ekowisata di pulau ini selama hampir satu dekade. Ia mempekerjakan 12 karyawan lokal maupun nasional yang diajak menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan dalam operasional sehari-hari.

Penggunaan plastik diminimalkan secara ketat, dan pengelola bahkan tidak menyediakan sikat gigi serta pasta untuk mengurangi sampah. Ajakan menggunakan air bersih secara bijaksana juga disampaikan kepada setiap tamu yang menginap.

"Sementara campaign terhadap masyarakat lokal untuk melindungi kawasan ini juga terus kami lakukan, supaya sejalan dengan konsep sustainability," ujar Adi.

Jejak Sejarah Perang Dunia II di Pulau Meti

Di balik keindahan alamnya, Pulau Meti menyimpan peninggalan sejarah dari masa Perang Dunia II. Kawasan Halmahera Utara, khususnya Tobelo dan Kao, pernah menjadi basis pertahanan strategis militer Kekaisaran Jepang untuk membendung pergerakan pasukan Sekutu di Pasifik Selatan.

Tentara Jepang membangun benteng pertahanan, landasan pacu, sumur, bunker, dan pos pengamatan maritim di pulau ini. Sisa-sisa peninggalan seperti pondasi beton tua, perbentengan, dan meriam masih dapat dijumpai di beberapa titik hingga hari ini.

Perpaduan wisata alam dan wisata sejarah ini menjadi nilai tambah bagi pengunjung. Wisatawan dapat melakukan jelajah pendek menyusuri jejak Perang Dunia II sebelum kembali menikmati ketenangan pantai.

Akses Menuju Pulau Meti

Perjalanan menuju Pulau Meti dimulai dari pusat Kota Tobelo melalui jalur darat menuju pelabuhan penyeberangan terdekat. Dari pelabuhan, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu bermotor selama sekitar 15 hingga 20 menit.

Kehadiran Meti Cottage memberikan dampak ekonomi bagi warga lokal melalui keterlibatan dalam pengelolaan pariwisata, penyediaan bahan pangan, dan jasa transportasi perahu. Pulau yang dulunya menjadi lintasan militer kini bertransformasi menjadi kawasan wisata berbasis masyarakat.

Reporter: Fiqri Ramadhan
Sumber: tandaseru.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top