Hanya 9 dari 45 Saham LQ45 Bertahan di Zona Hijau Sepanjang 2026, ADRO Paling Perkasa

Penulis: Boyke Sihombing  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 09:07:24 WIB
Hanya sembilan dari 45 saham konstituen LQ45 tercatat bertahan di zona hijau sepanjang 2026, dengan ADRO mencatat penguatan tertinggi.

MALUKU UTARA — Berdasarkan data Bloomberg, sembilan saham yang selamat dari aksi jual besar-besaran itu dikuasai oleh emiten batu bara dan konsumer. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi primadona dengan penguatan 43,79% ytd. Di posisi kedua, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 35,42% dalam periode yang sama.

Batu Bara Mendominasi, Konsumer Ikut Angkat Kaki

Sektor energi mendominasi daftar saham hijau. Selain ADRO dan AADI, ada PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang menguat 15,95%, serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang terapresiasi 6,48%. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga tercatat tumbuh 16,35%.

Dari sektor non-energi, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menonjol dengan kenaikan 24,42%, diikuti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang melesat 18,48%. Dua saham defensif lainnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), masing-masing menguat 5,91% dan 3,41%.

Arus Modal Asing dan Rupiah Jadi Beban Berat

Pelemahan LQ45 tak lepas dari derasnya arus keluar modal asing (net sell) yang terjadi hampir sepanjang tahun. Kondisi ini diperparah oleh tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang memicu ketidakpastian global. Nilai tukar rupiah yang terus melemah turut menekan minat investor asing terhadap aset berdenominasi rupiah.

Dari 45 saham konstituen, mayoritas bergerak di sektor perbankan, infrastruktur, dan properti yang menjadi korban utama aksi jual. Sektor batu bara justru diuntungkan oleh harga komoditas yang masih tinggi, sehingga saham-saham di dalamnya mampu bertahan di tengah badai.

Investor Masih Wait and See, Fundamental Jadi Kunci

Dengan hanya sembilan saham yang positif, pasar memberi sinyal bahwa selektivitas menjadi strategi utama. Emiten dengan fundamental kuat dan eksposur tinggi terhadap komoditas ekspor terbukti lebih tangguh. Sebaliknya, saham yang bergantung pada konsumsi domestik dan sektor keuangan masih harus berhadapan dengan tekanan likuiditas.

Belum ada tanda-tanda pembalikan arah (reversal) dalam waktu dekat. Investor disarankan mencermati pergerakan rupiah dan aliran dana asing sebagai indikator awal pemulihan LQ45. Investasi mengandung risiko.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top