MALUKU UTARA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi awal musim hujan di 68 dari 74 Zona Musim Jawa Timur atau sekitar 90,6 persen wilayah baru terjadi pada Desember 2026. Kemunduran dipicu anomali El Nino yang terukur pada kategori sangat kuat dengan indeks 2,63 sepanjang Juli-September 2026. Sembilan zona musim di kawasan Tapal Kuda bahkan diprediksi baru diguyur hujan pada Januari 2027.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Jawa Timur Anung Suprayitno memaparkan bahwa hanya sebagian kecil wilayah Jatim yang memasuki musim hujan pada November. Sembilan ZOM atau sekitar 11,8 persen luas daratan mengalami keterlambatan lebih dari dua bulan dari kondisi normal.
Wilayah yang terdampak kemunduran ekstrem meliputi Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Malang, Lumajang, dan Jember. Sementara Situbondo dan sejumlah kabupaten bertipe iklim kering di kawasan Tapal Kuda menjadi wilayah paling akhir menerima hujan.
Jadwal Rinci Awal Musim Hujan per Dasarian
BMKG merinci penyebaran awal musim hujan berlangsung bertahap sepanjang Desember. Pada dasarian III November, hujan baru turun di lima ZOM atau 8,5 persen luas daratan Jatim.
Memasuki Desember, 29 ZOM diprediksi mulai musim hujan pada dasarian I, disusul 28 ZOM pada dasarian II, dan 11 ZOM pada dasarian III. Pola ini membuat puncak penyebaran awal musim hujan terkonsentrasi di penghujung tahun.
"Kalau split tiga bulan, Jawa Timur sendiri awal musim hujan di bulan November hanya sebagian kecil saja yang akan memasuki musim hujan," kata Anung dalam konferensi pers daring, Selasa (29/9).
Ia menambahkan, "Desember terpecah menjadi tiga, kapan dasarian satu Desember, kapan dasarian dua Desember, dan dasarian tiga Desember."
El Nino Sangat Kuat Jadi Pemicu Utama
Indeks El Nino tercatat berada pada kategori sangat kuat di angka 2,63 selama periode Juli hingga September 2026. Angka ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan berkontribusi langsung pada pergeseran awal musim hujan.
BMKG memantau potensi interaksi antara El Nino Southern Oscillation (ENSO) di Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia. Kedua fenomena ini berpeluang saling menguatkan dan memicu kekeringan lebih parah.
"Yang kami khawatirkan justru indeks ENSO di Pasifik jika itu semakin memanas, menguat panasnya kemudian dipole mode indeksnya semakin panas. Yang kami khawatirkan adalah interaksi antara indeks ENSO dan dipole mode semakin menguat justru memperparah musim ini semakin kering," jelas Anung.
Meski IOD saat ini tergolong netral, fasenya berpeluang menjadi positif hingga akhir 2026. El Nino diprediksi bertahan hingga kuartal I 2027.
Monsun Tetap Penentu, ENSO dan IOD Hanya Pemicu
Anung menegaskan bahwa faktor penentu utama datangnya musim tetap pergerakan angin monsun. ENSO dan IOD berperan sebagai pemicu pergeseran waktu dan durasi, bukan pengganti mekanisme monsun itu sendiri.
"Musim kita tidak terlepas dari satu, bahwa monsun itu akan terjadi. Baik monsun baratan, monsun timuran yang linear dengan musim hujan atau kemarau apapun itu pasti terjadi di Jawa Timur," pungkasnya.
Bagi pelaku sektor pertanian di Jatim, mundurnya awal musim hujan berarti jadwal tanam perlu disesuaikan agar tidak gagal panen. Sektor air bersih dan energi juga berpotensi terdampak jika kemarau berkepanjangan hingga awal 2027.