TERNATE — Kegiatan yang diketuai Magfirah Rasyid, M.Pd itu melibatkan lima anggota tim: Suparman, Ph.D, Andita Nursakinah, M.Pd., Dr. Bahtiar, M.Pd, Dr. Ilham Majid, M.Pd, dan Dr. Nuraini Sirajuddin, M.Pd. Para guru diperkenalkan pada konsep dasar AI sebelum masuk ke praktik merancang bahan ajar.
Pendampingan tidak berhenti di pengenalan fitur. Guru dilatih menyusun prompt yang jelas, memeriksa hasil keluaran AI, menelusuri sumber informasi, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan kelas masing-masing.
Mengapa Guru Tetap Pemegang Kendali Bahan Ajar
Magfirah menegaskan posisi guru tidak tergeser oleh kehadiran AI. "Guru tetap menjadi perancang dan pengambil keputusan, sedangkan AI berperan sebagai asisten dalam proses perancangan bahan ajar," ujarnya.
Kendali itu mencakup penentuan tujuan pembelajaran, pemilihan materi, penetapan strategi, hingga penyesuaian bahan dengan karakteristik peserta didik. Tanpa kendali tersebut, bahan ajar berisiko kehilangan relevansi.
Risiko Keluaran AI: Tidak Selalu Akurat dan Lengkap
Tim PKM mengingatkan keluaran AI tidak selalu akurat, lengkap, mutakhir, atau punya referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Penggunaan berlebihan tanpa proses berpikir dan analisis berisiko menumbuhkan ketergantungan.
Dampak lanjutannya menyentuh kemampuan menulis, berpikir kritis, dan mengembangkan kreativitas. Karena itu, evaluasi hasil AI menjadi bagian wajib dalam pelatihan, bukan langkah opsional.
Etika dan Literasi AI Pedagogis Jadi Materi Kunci
Sesi berikutnya membahas etika penggunaan AI di pendidikan, meliputi privasi data, hak cipta, plagiarisme, transparansi, keamanan informasi, dan integritas akademik. Materi ini menyasar kebiasaan kerja guru sehari-hari.
Tim PKM juga memperkenalkan konsep pedagogical AI literacy, yakni kemampuan menghubungkan pemanfaatan teknologi dengan tujuan pedagogis. Cakupannya meliputi pemahaman kapan, mengapa, dan bagaimana teknologi dipakai secara tepat dalam pembelajaran.
Fokus pendampingan tidak hanya pada penggunaan Gamma AI. Guru juga dilatih merancang, mengevaluasi, menyunting, dan menyesuaikan bahan ajar yang dihasilkan. Kualitas, relevansi, akurasi, dan nilai pedagogis bahan tetap ditentukan oleh guru.
PKM ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi digital guru sekaligus memperkuat kesiapan pendidik menghadapi perkembangan teknologi pendidikan. Pemanfaatan AI secara bijak, kritis, dan etis diharapkan mendukung pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.