Laju indeks masih dibayangi sentimen negatif dari eksternal dan domestik. Di pasar reguler, investor asing membukukan penjualan bersih Rp 317,07 miliar, memperpanjang tren negatif yang terjadi beberapa hari terakhir. Secara keseluruhan, posisi asing tercatat net sell Rp 29,76 miliar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, delapan sektor ditutup di zona merah. Sektor Transportasi dan Logistik menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 1,09%. Hanya sektor Energi yang mampu bertahan di zona hijau, meski penguatannya tipis di level 0,22%.
Daftar Sektor dan Saham Pilihan Saat IHSG Melemah
Koreksi pasar justru membuka peluang akumulasi pada saham-saham dengan fundamental kuat. Berikut rekomendasi teknis dari analis untuk perdagangan pekan depan:
- TINS — Buy 4.390-4.420, target harga 4.500-4.570, stop loss 4.120
- IMPC — Buy 1.480-1.495, target harga 1.500-1.550, stop loss 1.385
- SOCI — Buy 630-640, target harga 650-665, stop loss 595
- MTEL — Buy 484-488, target harga 496-500, stop loss 466
- OMED — Buy 242-248, target harga 254-258, stop loss 232
Disclaimer: Analisis ini bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Investasi mengandung risiko.
Pada perdagangan Jumat lalu, saham Sinergi Inti Andalan Prima (NATO) mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 24,63%. Disusul TINS yang menguat 8,07% dan IMPC yang naik 6,76%. Sebaliknya, saham berkapitalisasi besar justru tertekan—BBCA turun 1,11%, ASII melemah 2,97%, dan BMRI terkoreksi 0,90%.
Sentimen tambahan datang dari penyebaran abu vulkanik di wilayah Jabodetabek yang berpotensi meningkatkan kebutuhan masker. Kondisi ini dinilai menguntungkan emiten sektor kesehatan seperti MEDS dan OMED.
BTPS Siap Buyback Rp 1 Triliun, EPS Diproyeksikan Naik
Bank BTPN Syariah (BTPS) mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan dana maksimal Rp 1 triliun yang seluruhnya berasal dari ekuitas perseroan. Jumlah saham yang akan dibeli maksimal 10% dari modal ditempatkan, sesuai batas ketentuan yang berlaku.
Berdasarkan proforma laporan keuangan per 30 Juni 2026, aksi korporasi ini akan menurunkan total aset dari Rp 23,30 triliun menjadi Rp 22,30 triliun. Namun, laba per saham (EPS) diproyeksikan meningkat signifikan dari Rp 85,09 menjadi Rp 94,54, meski laba tahun berjalan diperkirakan turun tipis dari Rp 655,49 miliar menjadi Rp 650,16 miliar akibat biaya pelaksanaan buyback.
Rencana ini masih menunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalkan pada 13 Oktober. Jika disetujui, periode pembelian kembali saham berlangsung maksimal 12 bulan sejak 14 Oktober.
Emiten Pelayaran dan Energi Catat Kinerja Moncer
Buana Lintas Lautan (BULL) membukukan laba bersih US$58,41 juta pada semester I-2026, melonjak 739% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan naik 84% menjadi US$128,73 juta, ditopang segmen angkutan kapal yang tumbuh menjadi US$126,32 juta dari sebelumnya US$63,10 juta.
Margin laba kotor BULL juga membaik tajam ke level 51,3% dari sebelumnya 27,5%. Perusahaan tengah memperkuat bisnis LNG dengan menambah armada dan menjajaki opsi rights issue untuk mendukung ekspansi.
Sementara itu, Raharja Energi Cepu (RATU) berencana menerbitkan saham baru melalui private placement maksimal 271,51 juta saham atau setara 10% dari modal ditempatkan. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp 6.000 per saham, perseroan berpotensi mengantongi dana sekitar Rp 1,63 triliun untuk modal kerja dan pengembangan usaha. Aksi ini berpotensi menyebabkan dilusi maksimal 9,09% bagi pemegang saham lama dan akan diputuskan dalam RUPSLB pada 8 September.
Di bursa global, tekanan juga terlihat pada indeks Amerika Serikat. Dow Jones turun 0,51% ke 53.414, S&P 500 terkoreksi 0,38% ke 7.718, dan Nasdaq melemah 0,29% ke 26.506. Di pasar offshore, ETF EIDO tercatat turun 1,20% dan indeks MSCI Indonesia melemah 1%.