MALUKU UTARA — Setiap anak punya bentuk tubuh yang berbeda. Ada yang terlahir dengan postur kecil dan ramping, tapi tetap aktif dan sehat. Namun, kekhawatiran Mama muncul ketika si Kecil terlihat lebih kurus dibanding teman seusianya di playgroup atau lingkungan rumah.
Alih-alih langsung panik, ada sejumlah indikator objektif yang bisa diamati. Dokter spesialis anak dr. Vivi Septriani, Sp.A., membagikan panduan melalui Instagram pribadinya @dr.vivi.spa tentang apa saja yang perlu diperhatikan orang tua.
Bukan Soal Penampilan: Ukur Berat Badan dan Grafik Pertumbuhan
Penampilan kurus saja tidak cukup untuk menilai status gizi. Mama perlu rutin menimbang anak dan mencocokkannya dengan grafik pertumbuhan di buku KIA atau aplikasi kesehatan.
Menurut dr. Vivi, kunci utamanya adalah berat badan yang terus naik mengikuti kurva. Jika beratnya stagnan atau bahkan turun selama beberapa bulan, itu tanda bahaya yang tidak bisa diabaikan.
Sebaliknya, anak kurus yang sehat umumnya tetap mengikuti tren kenaikan meski berada di persentil bawah. Di sinilah pentingnya mencatat hasil penimbangan bulanan, bukan sekadar membandingkan dengan anak tetangga.
Lihat Pertumbuhan Tinggi Badan, Bukan Cuma Berat
Tinggi badan sering kali terlupakan saat orang tua sibuk mengejar angka timbangan. Padahal, anak yang kurang gizi biasanya mengalami perlambatan tinggi badan juga.
Amati apakah tinggi si Kecil bertambah sesuai usianya saat pengukuran rutin di posyandu atau sekolah. Jika berat rendah tetapi tinggi masih normal, kemungkinan anak hanya bertubuh ramping secara alami.
Namun, bila tinggi dan berat sama-sama tidak bertambah dalam kurun waktu tertentu, ini bisa menjadi alarm bahwa asupan energinya tidak mencukupi kebutuhan.
Kenali Kondisi Fisik dan Tingkat Aktivitas Si Kecil
Tubuh kurus yang sehat biasanya tetap diiringi ramaian, kulit yang kenyal, dan mata yang bercahaya. Anak juga aktif bermain, berlari, dan tidak mudah lemas.
Perhatikan juga kualitas rambutnya — jika kering, mudah rontok, atau warnanya kemerahan, bisa jadi ada defisiensi nutrisi tertentu. Selain itu, otot anak kurus sehat umumnya masih terasa padat, bukan lembek atau kendur.
Bandingkan dengan anak yang kurang gizi: mereka cenderung lesu, mudah mengantuk, dan kurang responsif terhadap lingkungan. Wajahnya mungkin terlihat pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata.
Frekuensi Sakit sebagai Peringatan Dini
Anak yang kekurangan gizi memiliki daya tahan tubuh rendah. Ia akan lebih sering jatuh sakit, seperti infeksi saluran pernapasan, diare, atau demam yang berkepanjangan.
Dr. Vivi menekankan bahwa sistem imun yang lemah sangat erat kaitannya dengan asupan protein dan mikronutrien seperti zat besi, zinc, dan vitamin A.
Bila anak kurus jarang sakit dan cepat pulih meskipun pernah demam, itu pertanda baik. Sebaliknya, bila hampir setiap bulan Mama membawanya ke dokter karena penyakit berulang, sebaiknya segera evaluasi menu makanannya.
Kapan Mama Perlu Konsultasi ke Dokter Anak?
Penting untuk membedakan antara "bertubuh kecil karena faktor genetik" dan "gagal tumbuh". Jika Mama mendapati kondisi berikut, jangan menunda mencari bantuan medis:
- Berat badan tidak naik selama tiga bulan berturut-turut.
- Tinggi badan tidak bertambah sesuai usia.
- Anak tampak lemas, pucat, atau tidak responsif.
- Riwayat penyakit yang sering dan berulang.
Dokter akan melakukan pemeriksaan antropometri dan menyusun rencana perbaikan gizi yang sesuai dengan kondisi anak, bukan sekadar memberi multivitamin.
Kesimpulannya, jangan hanya berpatokan pada penampilan fisik anak. Perhatikan pola pertumbuhannya secara berkala, lengkapi dengan asupan makan yang beragam, dan selalu jadwalkan pemeriksaan rutin ke fasilitas kesehatan. Dengan begitu, Mama bisa membedakan anak kurus sehat dari yang membutuhkan perhatian gizi lebih.