MALUKU UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,80% ke level 6.097 pada perdagangan sesi pertama Kamis (8/10). Sebanyak 440 saham terkoreksi, berbanding 200 saham yang menguat dan 142 saham stagnan. Investor asing mencatatkan net foreign sell Rp 194,24 miliar, dengan BMRI, BUMI, dan ANTM jadi sasaran utama pelepasan.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi saham hingga jeda makan siang mencapai Rp 7,05 triliun. Volume perdagangan tercatat 43,80 miliar saham dengan frekuensi 1,13 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar IHSG pada sesi pertama berada di Rp 10.729 triliun.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, aksi jual bersih investor asing mencapai Rp 194,24 miliar. Nilai foreign buy tercatat Rp 1,53 triliun, sementara foreign sell menembus Rp 1,73 triliun.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi saham yang paling banyak dibuang asing dengan nilai transaksi Rp 37,64 miliar. Posisi berikutnya ditempati PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp 35,85 miliar, disusul PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) senilai Rp 34,49 miliar.
Tekanan jual merata hampir ke seluruh sektor. Dari sebelas sektor di BEI, sepuluh di antaranya berada di zona merah. Sektor energi mencatat penurunan terdalam dengan koreksi 1,73%.
Salah satu saham sektor energi yang tertekan yakni PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang turun 4,72% ke Rp 1.010. Pelemahan sektor energi ini sejalan dengan koreksi harga komoditas di pasar global.
Sentimen negatif tidak hanya menghantam bursa domestik. Seluruh bursa saham Asia parkir di zona merah pada sesi siang ini. Indeks Nikkei turun 0,70%, Shanghai Composite terkoreksi 0,39%, dan Hang Seng tergelincir 0,50%.
Yang paling dalam koreksinya adalah Straits Times yang merosot 3,28%. Pelemahan serentak ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi kawasan.
Di tengah tekanan jual, sejumlah saham berhasil mencatatkan penguatan. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 3,05% ke Rp 4.390 dan menjadi top gainer.
Di kubu sebaliknya, saham-saham yang mencatat penurunan terdalam didominasi sektor energi dan pertambangan. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memimpin koreksi dengan penurunan 6,55% ke Rp 785.
Dominasi saham yang terkoreksi atas yang menguat menunjukkan tekanan jual masih kuat. Rasio 440 saham turun berbanding 200 saham naik menjadi indikator bahwa pasar belum menemukan titik keseimbangan.
Investor asing yang masih mencatatkan net sell menambah beban indeks. Pergerakan nilai tukar rupiah dan perkembangan bursa Asia akan menjadi faktor penentu arah IHSG pada sesi kedua nanti.