MALUKU UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 1,69 persen atau 107,68 poin ke level 6.277,04 pada perdagangan menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah di pasar spot ikut tertekan 37 poin atau 0,21 persen ke Rp17.884 per dolar AS, mendekati ambang psikologis Rp18.000. Tekanan datang bersamaan saat pelaku pasar memilih menunggu keputusan suku bunga acuan.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, IHSG sempat mencoba menguat ke posisi tertinggi 6.423,84 sebelum terlempar ke zona merah akibat aksi jual masif. Posisi terendah indeks menyentuh 6.258,44. Sektor energi dan utilitas menjadi dua kelompok saham yang paling dalam koreksinya.
Saham-saham energi rontok hingga 2,2 persen, sementara sektor utilitas terkoreksi 1,9 persen. Tiga saham berkapitalisasi besar menjadi jangkar pemberat indeks:
Pelemahan merata di hampir seluruh sektor menunjukkan tekanan jual tidak terbatas pada satu industri saja. Investor asing tercatat menarik dana dari pasar berkembang seiring meningkatnya imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang bertahan mendekati 5 persen.
Di pasar spot, rupiah ditutup melemah 37 poin ke Rp17.884 per dolar AS. Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate menempatkan rupiah di Rp17.883 per dolar AS. Posisi ini membuat nilai tukar kian dekat ke ambang psikologis baru Rp18.000 per dolar AS.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap mata uang domestik didorong kombinasi sentimen eksternal dan internal. Dari sisi global, indeks dolar AS (DXY) terus naik menyusul sinyal kebijakan ketat The Federal Reserve.
"Investor cenderung menarik modal dari pasar berkembang (risk-off) dan mengalihkannya ke aset aman (safe haven) karena imbal hasil obligasi AS (US Treasury) tenor 10 tahun masih kokoh mendekati level 5 persen," ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Harga minyak mentah dunia yang bertahan di sekitar US$100 per barel akibat memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah turut memperburuk prospek impor energi nasional. Kombinasi faktor ini menekan neraca perdagangan dan memperkuat tekanan jual di pasar valuta asing.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis kebijakan moneter Bank Indonesia. Mayoritas ekonom dan institusi finansial memproyeksikan BI Rate dipertahankan di level 5,75 persen. Jika prediksi ini akurat, ini menjadi kali ketiga berturut-turut BI menahan suku bunga acuan setelah keputusan serupa pada RDG Juli dan Agustus lalu.
Langkah menahan suku bunga dinilai moderat untuk menjaga stabilitas sektor riil domestik agar tidak terbebani biaya modal yang terlalu tinggi. Namun sejumlah analis menilai BI berada dalam posisi dilematis jika tekanan pelemahan rupiah berlanjut hingga kuartal IV-2026.
Opsi menaikkan suku bunga acuan dinilai bisa menjadi benteng terakhir bank sentral demi meredam pengaliran modal asing keluar. Untuk sementara, BI diprediksi lebih mengoptimalkan intervensi valuta asing serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Di tengah volatilitas pasar keuangan, fundamental fiskal Indonesia dinilai masih solid. Berdasarkan laporan realisasi APBN Kita Kementerian Keuangan teranyar, defisit anggaran hingga akhir Agustus terkendali di Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen dari PDB. Keseimbangan primer juga mencatatkan nilai positif.
Bagi investor, kombinasi tekanan eksternal dan prospek suku bunga yang belum berubah membuat pasar cenderung bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Posisi rupiah mendekati Rp18.000 dan level IHSG di bawah 6.300 menjadi dua indikator yang perlu dicermati pada sesi perdagangan berikutnya.