MALUKU UTARA — Konektor USB-C menawarkan bentuk oval yang bisa ditancapkan bolak-balik, sementara USB-A masih memakai desain persegi panjang dengan pin di satu sisi. Perbedaan keduanya tidak berhenti di soal bentuk, karena kecepatan transfer data dan kemampuan pengisian daya juga ditentukan oleh standar protokol di baliknya. Memahami hal ini membantu pengguna memilih kabel dan port yang tepat untuk laptop, ponsel, maupun perangkat lain.
USB Type-A merupakan salah satu dari dua konektor original yang didefinisikan dalam standar USB 1. Konektor ini memakai bentuk persegi panjang dengan seluruh pin berada di satu sisi, sehingga hanya bisa masuk ke port dengan satu orientasi tertentu.
Kondisi itu membuat siapa pun pernah membalik-balik colokan USB-A beberapa kali sebelum berhasil masuk. USB sendiri dirancang pada pertengahan 1990-an untuk menyederhanakan koneksi periferal komputer yang sebelumnya penuh kabel dan masalah kompatibilitas port.
Versi awal USB membedakan satu perangkat sebagai host, biasanya komputer, dan perangkat kedua sebagai perangkat yang terhubung. Keduanya tidak bisa bertukar peran, sehingga kabel USB-A ke USB-A tidak dijual bebas.
Jika kabel semacam itu dicolokkan ke dua komputer, keduanya akan mencoba menjadi host dan menimbulkan masalah. USB-B hadir sebagai konektor pendamping untuk periferal pada masa awal, dan masih sesekali terlihat pada perangkat seperti printer.
Mini-B dan Micro-B, yang lebih dikenal sebagai Mini-USB dan Micro-USB, menjalankan fungsi serupa dalam ukuran lebih kecil. Keduanya sempat mendominasi perangkat mobile seperti pemutar MP3, ponsel, dan pengontrol game sebelum digantikan USB-C.
USB Type-C debut pada 2014, meski perangkat yang memakainya baru benar-benar ramai menyusul pada 2015. Berbeda dari USB-A, USB-C berbentuk oval dan bisa dicolokkan tanpa perlu memutar posisi.
Standar ini juga menghapus pembedaan host dan perangkat dari generasi USB sebelumnya. Ketika dua perangkat dihubungkan, keduanya otomatis menentukan peran masing-masing.
Sejak USB-C masuk, koneksi lama diberi status legacy dan perlahan tergeser. Kini hampir semua laptop dan desktop punya setidaknya satu port USB-C, dan konektor ini jadi standar untuk ponsel, tablet, headphone, hingga pengontrol.
Port USB-C juga mulai menggantikan USB-A di mobil, router, dan power bank. Micro-USB masih bertahan di perangkat murah atau perangkat yang sudah lama tidak diperbarui.
Selain transfer data, USB-C bisa mengisi daya perangkat besar seperti laptop, mengeluarkan video dan audio, serta menghubungkan berbagai periferal. Pekerjaan yang dulu butuh setengah lusin koneksi berbeda di laptop kini bisa ditangani beberapa port USB-C saja.
Fleksibilitas itu membuat USB-C makin universal, terutama di perangkat yang menuntut port ringkas tanpa mengorbankan fungsi.
Bentuk fisik kabel dan port hanya separuh cerita. Kecepatan transfer data, kecepatan pengisian daya, dan kemampuan lain bergantung pada standar protokol yang dipakai kabel dan port tersebut.
USB-A punya keterbatasan dalam hal kecepatan pengisian daya, sedangkan USB-C mendukung standar fast charging modern. Standar tertua yang masih umum dipakai adalah USB 2.0 dengan kecepatan teoretis maksimal 480 Mbps, biasanya ditandai warna hitam atau putih pada port dan konektornya.
USB 3.0 yang umumnya ditandai warna biru menawarkan kecepatan maksimal 5 Gbps. Penamaan standar setelahnya sempat membingungkan karena awalnya disebut USB 3.1 dan USB 3.2, lalu standar sebelumnya diganti nama berkali-kali dengan penanda generasi.
Saat ini penamaan resminya memakai kecepatan maksimal, yakni USB 5 Gbps, USB 10 Gbps, dan USB 20 Gbps. Kecepatan USB-A berkisar dari USB 2.0 hingga USB 10 Gbps, sementara USB-C bisa selambat USB 2.0 tetapi juga mampu memenuhi standar USB 20 Gbps.
USB4 dengan kecepatan dasar 20 Gbps dan puncak 40 Gbps, atau 80 Gbps untuk perangkat USB 4 2.0, hanya didukung USB-C. Agar kecepatan tinggi itu benar-benar terpakai, port di kedua perangkat dan kabelnya harus sama-sama mendukung standar tersebut.
Menancapkan kabel USB 20 Gbps ke port yang mentok di USB 5 Gbps hanya akan menghasilkan kecepatan sesuai kemampuan port paling lambat.
USB-A masih relevan berkat kompatibilitas luas di desktop, laptop, router, konsol game, mobil, hingga titik pengisian daya di kursi pesawat dan sofa. Namun untuk perangkat baru yang menuntut port ringkas dan serbaguna, USB-C jadi pilihan utama.
Pengguna yang sering memindahkan data besar atau mengisi daya laptop lewat kabel sebaiknya memeriksa standar yang tertera, bukan hanya bentuk konektornya. Untuk pengisian daya ponsel sehari-hari, kabel USB-C standar sudah memadai selama adaptor dan port perangkat mendukung fast charging.