Hilirisasi Nikel Ubah Peta Ekonomi, Investasi Logam Tembus US$14 Miliar

Penulis: Cecep Sudrajat  •  Minggu, 20 September 2026 | 13:07:01 WIB

MALUKU UTARA — Investasi asing di sektor industri logam dasar Indonesia melesat dari di bawah US$2 miliar pada 2010 menjadi US$14 miliar pada 2024, didorong kebijakan hilirisasi mineral yang mengubah struktur ekonomi daerah tambang. Lonjakan ini menjadikan Indonesia rujukan negara penghasil mineral lain, meski tantangan efisiensi investasi masih membayangi.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyebut hilirisasi mineral telah mengubah wajah ekonomi Indonesia dalam waktu kurang dari satu dekade. Wilayah sekitar tambang yang dulu hanya menjadi pemasok bahan mentah kini bertransformasi menjadi pusat pengolahan komoditas.

Data CORE Indonesia menunjukkan Penanaman Modal Asing (PMA) untuk sektor Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya melonjak tajam sejak 2019. Sebelumnya, sektor pertambangan, industri kertas dan percetakan, serta transportasi dan telekomunikasi mendominasi aliran investasi asing.

Lompatan Investasi yang Mengubah Struktur Ekonomi

Pada 2010, nilai PMA di sektor logam dasar masih di bawah US$2 miliar. Angka itu melesat mulai 2019 dan kini menembus US$14 miliar. Sementara tiga sektor lain yang sebelumnya dominan bergerak naik turun dan tidak pernah melewati US$8 miliar.

Pergeseran ini menandai transisi dari dominasi sektor primer menuju industri pengolahan. Faisal menilai kecepatan industrialisasi berbasis tambang mineral Indonesia membuat negara lain iri.

"Filipina tuh sebetulnya ingin mengikuti langkah Indonesia, pathway industrialisasi, hilirisasi Indonesia. Tapi mereka enggak bisa. Dia (pelaku usaha Filipina) bilang bahwa Indonesia tuh terlalu besar dan sudah lebih duluan advanced membangun (ekosistem) industri ini," kata Faisal dalam sosialisasi MediaMIND 2026, Senin (14/9).

Filipina merupakan pemasok nikel terbesar kedua dunia setelah Indonesia. Namun menurut Faisal, pelaku usaha Filipina mengakui sulit mengejar ketertinggalan ekosistem industri yang sudah dibangun Indonesia.

Negara-negara Afrika yang juga memiliki cadangan mineral melimpah bahkan ingin meniru langsung kebijakan hilirisasi Indonesia. "Setiap kali mereka bertanya kebijakan apa yang dilakukan Indonesia, ingin langsung copy paste gitu, banyak negara-negara penghasil mineral itu yang memang ingin mengikuti langkah Indonesia," ujar Faisal.

MIND ID Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Mineral Global

Momentum hilirisasi semakin kuat setelah MIND ID diperkuat sebagai holding tambang negara. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) resmi bergabung pada Juli 2024, menyusul PT Freeport Indonesia yang lebih dulu masuk pada 2018.

Dengan menguasai nikel, tembaga, emas, dan produk turunannya, Indonesia dinilai mampu memastikan posisi dalam mengatur pasokan serta harga komoditas mineral utama dunia. Dampak akhirnya adalah penerimaan negara yang lebih terjamin.

Faisal menambahkan, perkembangan teknologi global membutuhkan bahan baku mineral yang semuanya tersedia di Indonesia. "Semestinya kalau industri high-tech yang punya value added lebih tinggi seperti baterai itu bisa berjalan dengan mulus nantinya, value added-nya bisa lebih tinggi lagi. Karena selama ini yang dorong ini baru dari smelter di hilir," jelasnya.

Tantangan Efisiensi Investasi Masih Menghadang

Meski indikator positif mulai terlihat, Faisal mengingatkan proses hilirisasi masih berada di tahap awal. Salah satu tanda pergeseran dari de-industrialisasi menuju re-industrialisasi terlihat dari pertumbuhan industri manufaktur yang beberapa kuartal terakhir lebih tinggi dibanding pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun tantangan utama yang perlu diatasi adalah tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Rasio ini mengukur seberapa efektif investasi menghasilkan output ekonomi.

"Once kita bisa mengatasi masalah itu, artinya investasi dikeluarkan, output-nya bisa lebih tinggi. Tapi bukan cuma output, selalu saya bilang kualitasnya juga," kata Faisal.

Peningkatan investasi ke depan harus mampu menghasilkan pertumbuhan output lebih besar, menciptakan lapangan kerja formal, dan meningkatkan kualitas produk. Tanpa perbaikan ICOR, lonjakan investasi berisiko tidak sebanding dengan manfaat ekonomi yang dihasilkan.

Hilirisasi nikel telah membuktikan Indonesia bisa keluar dari jebakan negara pengekspor bahan mentah. Namun keberlanjutan transformasi ini bergantung pada kemampuan menjaga konsistensi kebijakan dan memastikan setiap dolar investasi benar-benar menggerakkan ekonomi riil.

Reporter: Cecep Sudrajat
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top