MALUKU UTARA — Perangkat ini hadir dengan ukuran sebesar paspor saat dilipat. Xiaomi menyematkan prosesor AI XRing O3 buatan internal sebagai otak utama perangkat.
XRing O3 menjadi salah satu nilai jual utama Xiaomi 18 Fold. CEO Xiaomi Lei Jun menyebut prosesor tersebut memiliki responsivitas lebih unggul dibandingkan chip A19 Pro milik Apple.
Selain chip AI, Xiaomi 18 Fold juga menggunakan cip memori DRAM yang dipasok produsen cip memori asal China, CXMT. Langkah ini menempatkan Xiaomi 18 Fold sebagai perangkat yang cukup bergantung pada rantai pasok komponen lokal.
Kombinasi prosesor internal dan memori lokal ini menjadi sinyal keseriusan Xiaomi membangun ekosistem komponen sendiri di tengah tekanan geopolitik teknologi.
Xiaomi 18 Fold dibanderol mulai dari US$1.540 atau sekitar Rp27,1 juta. Varian tertinggi dijual hingga US$2.100 atau sekitar Rp37 juta.
Rentang harga tersebut menempatkan Xiaomi 18 Fold bersaing langsung di segmen ponsel lipat premium. Angka ini juga menjadi acuan bagi konsumen yang membandingkan dengan ponsel lipat merek lain di kelas yang sama.
Peluncuran Xiaomi 18 Fold berselang dua hari dari perkenalan ponsel lipat perdana Apple. Jarak waktu yang tipis menunjukkan Xiaomi ingin menjaga momentum di segmen ponsel lipat lebar yang kian ramai.
Pasar ponsel lipat di China memang menjadi medan uji bagi produsen lokal sebelum ekspansi ke pasar global. Xiaomi 18 Fold menjadi salah satu tolok ukur sejauh mana produsen China mampu mandiri di komponen inti.
Sejauh ini belum ada keterangan resmi soal jadwal pemasaran Xiaomi 18 Fold ke pasar di luar China, termasuk Indonesia.