Film Dau Tayang Perdana di Venice 2025, Durasi 200 Menit Picu Debat Etika

Penulis: Dedi Supriadi  •  Sabtu, 12 September 2026 | 18:04:02 WIB
Sutradara Ilya Khrzhanovsky menghadiri penayangan perdana film Dau di kompetisi utama Venice Film Festival 2025.

MALUKU UTARA — Ilya Khrzhanovsky kembali ke panggung festival internasional lewat Dau, yang tayang perdana di kompetisi utama Venice Film Festival 2025. Ini jadi kemunculan pertama proyek DAU Cinematic Universe di festival besar sejak DAU. Natasha dan DAU. Degeneration diputar di Berlin Film Festival 2020, sesaat sebelum pandemi COVID-19 mengunci industri film global.

Keputusan Venice memprogram Dau di kompetisi utama memicu perdebatan. Pasalnya, proyek raksasa ini pernah dihantam tuduhan kekerasan fisik dan psikologis selama proses produksi yang berlangsung bertahun-tahun. Pihak festival sendiri membela film ini dengan alasan politik.

Sinopsis Singkat: Fisikawan di Pusaran Represi Soviet

Dau berdurasi lebih dari 200 menit, belum termasuk jeda 15 menit di tengah penayangan Venice. Ceritanya membentang empat dekade kehidupan seorang fisikawan yang terlibat proyek bom atom Soviet.

Tokoh utamanya terinspirasi dari Lev Landau, fisikawan teoretis Soviet peraih Nobel 1962 yang ikut menghitung dinamika bom termonuklir pertama Uni Soviet. Dalam film, protagonis fiktif bernama Dau diperankan musisi Yunani-Rusia, Teodor Currentzis.

Dau digambarkan sebagai ilmuwan kelahiran Yunani yang tiba di Uni Soviet tanpa latar belakang yang jelas. Sejak awal ia ditandai sebagai orang luar, tampil dengan pakaian beludru merah menyala di antara pria-pria berpakaian netral. Film membuka pada 1928 di Leningrad, lalu melompat ke Kharkiv pertengahan 1930-an, tempat Dau muda menolak tawaran industri militer.

Pada akhir 1930-an, ia bergabung dengan lembaga riset ilmiah negara di Moskow setelah dihadapkan pilihan antara bekerja sama atau dikirim ke koloni penalti. Sisa film berlangsung di tempat semi-surealis yang perlahan menggerogoti pikiran, prinsip, dan kebebasannya di bawah pengawasan interogator pemerintah, Azhippo.

Capaian dan Sambutan: Pujian Visual, Kritik Narasi

Dau menampilkan konstruksi audio dan visual yang disebut-sebut intens, bahkan nyaris membuat kejang. Tiga sinematografer dikreditkan, salah satunya Lol Crawley, yang sebelumnya memenangi Oscar lewat The Brutalist.

Namun sejumlah kritik menilai film ini tipis secara dramatik dan retoris. Dau disebut sebagai padanan avant-garde dari Oppenheimer dan The Brutalist, yang sama-sama memotret gejolak sosial-ideologis suatu era lewat satu tokoh tersiksa.

Bedanya, Dau justru makin menjauh dari penonton seiring berjalannya waktu. Alih-alih membuka diri sebagai karakter, ia tenggelam dalam kehancuran yang menurut kritik tidak mengungkap hal baru tentang mimpi buruk rezim tersebut.

Kontroversi di Balik Layar dan Pembelaan Festival

Tuduhan kekerasan fisik dan psikologis di lokasi syuting proyek DAU mencuat kembali menjelang penayangan di Venice. Isu ini jadi bahan debat soal etika memprogram film bersangkutan di kompetisi utama.

Pihak petinggi festival membela keputusan tersebut dengan alasan politik. Tesis besar Khrzhanovsky soal alat represi dan imperialisme negara Rusia dinilai makin relevan sejak invasi Putin ke Ukraina.

Pertanyaan lain yang muncul: apakah Dau cukup kuat secara artistik untuk membenarkan semua perdebatan ini? Sampai sekarang, jawabannya masih terbuka.

Apa Selanjutnya untuk Proyek DAU

Dau diposisikan sebagai upaya Khrzhanovsky mengekstraksi epik dramatik dari tumpukan materi proyek DAU yang belum pernah dipublikasikan. Judulnya sendiri kembali ke dasar, memakai nama proyek induknya.

Belum ada informasi soal distributor atau jadwal tayang komersial Dau di luar festival. Venice menjadi panggung pertama film ini sebelum nasib edarnya ditentukan.

Proyek DAU sudah lama dikenal sebagai eksperimen sinematik multidisiplin yang ambisius, tapi juga kontroversial. Kehadiran Dau di Venice 2025 menegaskan proyek ini belum selesai jadi perdebatan di industri film global.

Reporter: Dedi Supriadi
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top