TERNATE — Pemerintah Kota Ternate menempatkan Kecamatan Ternate Tengah sebagai titik awal pembenahan pengelolaan sampah. Pengurangan sampah dari sumber didorong untuk menekan beban pengangkutan sekaligus memperbaiki pengelolaan lingkungan di wilayah tersebut.
Langkah itu disampaikan Wali Kota Ternate H. M. Tauhid Soleman usai kunjungan dan rapat kerja bersama camat dan lurah di Kantor Camat Ternate Tengah, Rabu (9/9/2026). Menurut Tauhid, persoalan lingkungan hidup dan sampah menjadi isu paling dominan di wilayah itu.
"Masalah lingkungan hidup, masalah sampah itu paling dominan, termasuk juga upaya untuk pengurangan sampah," kata Tauhid.
Kondisi kendaraan pengangkut sampah menjadi perhatian dalam rapat tersebut. Tauhid menyebut terdapat delapan armada yang dilaporkan mengalami kerusakan.
Ia meminta kendaraan yang masih memungkinkan untuk diperbaiki segera ditangani. Sementara armada dengan kerusakan berat akan dihapus dan diganti dengan kendaraan baru.
"Itu masuk atensi. Tadi ada laporan delapan, saya minta kalau boleh delapan itu diganti. Yang lain rusak diperbaiki. Tapi yang rusak berat kita hapus, untuk ganti baru," ujarnya.
Penambahan armada dinilai tetap diperlukan karena jumlah kendaraan yang tersedia saat ini masih terbatas. Pemkot Ternate telah meminta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mengkaji kebutuhan penambahan armada dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah.
Keterbatasan itu salah satunya terjadi di Kelurahan Maliaro yang produksi sampahnya cukup tinggi karena jumlah penduduknya besar. Dari tiga armada Kaisar yang tersedia, satu unit mengalami kerusakan berat sehingga hanya dua armada yang dapat beroperasi.
"Artinya sangat kurang, makanya kita harus ada penambahan," katanya.
Tauhid menegaskan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah armada pengangkut. Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kecamatan, dan kelurahan diminta memperkuat koordinasi, terutama dalam memastikan data produksi dan pengelolaan sampah sesuai kondisi riil di lapangan.
Data yang diterima pemerintah, lanjutnya, perlu diverifikasi kembali agar kebijakan yang diambil tidak keliru.
"Jangan sampai data yang disampaikan itu ABS," tegasnya.
Tauhid mengimbau masyarakat untuk tidak lagi membuang sampah ke barangka maupun saluran air. Kebiasaan tersebut dinilai harus dihentikan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan mengurangi persoalan lingkungan.
Keberadaan Satuan Tugas (Satgas) dinilai cukup efektif membantu penanganan sampah. Meski demikian, pengelolaan bank sampah masih perlu ditingkatkan karena dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
"Karena itu, saya meminta agar diefektifkan bank sampah. Karena kita berupaya untuk pengurangan sampah, sekaligus ada nilai ekonomis dari pengelolaan sampah itu," ujarnya.
Pembenahan pengelolaan sampah ditargetkan mulai menunjukkan perubahan pada 2027, mencakup infrastruktur, armada, hingga personel yang mendukung operasional di lapangan. Pengurangan sampah sejak dari sumber tetap menjadi prioritas, sementara penambahan armada hanya menjadi bagian dari dukungan terhadap sistem pengangkutan.
"Solusi paling terbaik itu pengurangan sampah. Karena upaya penanganan sampah itu pengurangan sampah yang berasal dari sumber," pungkasnya.