Pelindo Tanjung Wangi Buka Lahan Parkir 24.898 m², Target Truk Tak Lagi Ngantre di Jalan

Penulis: Boyke Sihombing  •  Sabtu, 05 September 2026 | 08:19:31 WIB
Area seluas 24.898 meter persegi di Pelabuhan Tanjung Wangi disiapkan sebagai lokasi parkir sementara bagi truk untuk mengurangi kepadatan di jalan.

MALUKU UTARA — Banyuwangi menghadapi ujian klasik setiap musim libur panjang: ruas jalan menuju Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk dipadati kendaraan pribadi dan roda dua. Dampaknya merembet ke kendaraan logistik yang bernasib sama—terjebak antrean panjang di badan jalan, termasuk truk yang hendak menyeberang atau bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Wangi.

Untuk memecah kemacetan itu, Pelindo Tanjung Wangi mengambil langkah insidentil. Perusahaan pelat merah ini membuka kembali kantong parkir dan buffer area miliknya sebagai lokasi parkir sementara bagi truk yang menunggu giliran masuk pelabuhan.

Langkah ini bukan sekadar inisiatif internal. General Manager Pelindo Tanjung Wangi, Eko Budyasmoro, menyebut pembukaan area tersebut merupakan arahan langsung dari Kementerian Perhubungan untuk membantu pemerintah daerah menangani kepadatan lalu lintas.

"Kami membuka kembali kantong parkir dan buffer area yang kami miliki sebagai bagian dari upaya bersama untuk membantu mengurai kepadatan kendaraan di akses menuju pelabuhan. Kendaraan yang akan menuju pelabuhan dapat diarahkan untuk menunggu sementara di area yang telah disiapkan sehingga tidak seluruhnya menumpuk di badan jalan," ujar Eko dalam keterangan resminya.

Dua Titik Parkir, Kapasitas 408 Truk

Pelindo Tanjung Wangi menyiapkan dua fasilitas untuk menampung truk yang mengantre. Pertama, area RTK seluas 7.000 meter persegi dengan kapasitas 95 unit truk golongan V. Kedua, buffer area yang jauh lebih luas, mencapai 24.898 meter persegi, sanggup menampung hingga 313 unit truk golongan V hingga VII.

Fasilitas ini terbuka bagi semua kendaraan yang menuju Pelabuhan Tanjung Wangi, baik yang sudah mengantongi tiket kapal maupun yang belum. Dengan begitu, truk tidak lagi menumpuk di bahu jalan dan mempersempit ruang gerak kendaraan lain.

Eko menegaskan bahwa pemanfaatan lahan ini bersifat situasional. "Pemanfaatan area ini sifatnya insidentil dan akan kami sesuaikan dengan kondisi kepadatan di lapangan. Harapannya, keberadaan buffer area ini dapat memberikan ruang bagi kendaraan untuk menunggu sehingga kepadatan di ruas jalan utama dapat diminimalkan," tambahnya.

Bukan Hanya Parkir, Percepatan Kapal Juga Digenjot

Menyediakan lahan parkir saja tidak cukup. Pelindo Tanjung Wangi juga menggenjot koordinasi dengan pihak pelayaran untuk memangkas waktu sandar kapal di pelabuhan. Semakin cepat kapal bongkar muat dan berangkat, semakin cepat pula antrean truk terurai.

Perusahaan pelabuhan itu juga meminta agen pelayaran mengevaluasi sistem penjualan dan distribusi tiket kapal. Ketepatan jadwal keberangkatan dan kesiapan armada menjadi sorotan utama agar pelayanan kepada pengguna jasa tidak terganggu di tengah lonjakan arus kendaraan.

Langkah Pelindo Tanjung Wangi ini menjadi contoh bagaimana badan usaha milik negara turun tangan dalam persoalan publik yang berdampak langsung pada kelancaran distribusi logistik. Jika buffer area berfungsi optimal, truk-truk yang selama ini ikut menyumbat arus mudik bisa bergerak lebih tertib—dan kemacetan di Banyuwangi punya ruang untuk bernapas.

Reporter: Boyke Sihombing
Sumber: jurnal9.tv This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top